"Kami berbicara tentang unjuk rasa 1989 dan mereka tidak suka itu."
The Time Is Very Important
Kesadaran akan nilai waktu harus selalu diingatkan. Dipelihara dengan rasa syukur yang besar terhadap sang Khaliq penguasa waktu. Nikmati Waktumu yang masih ada, Hargai waktumu yang masih terissa! Readmore...
Tolonglah Saya Dengan Do'a Anda
Singkat cerita ia pun melamar Sang Wanita Solehah itu. Subhanallah, kegigihannya selama 4 bulan itu membuahkan hasil. Lamarannya diterima, sebulan lagi mereka melangsungkan akad dan walimah. "Alhamdulillah, ada waktu bagi saya untuk menuntaskan target hafalan 10 juz" Tekadnya Readmore..
HARGAI DIRI JANGAN SELALU MENGALAH
Mengalah boleh saja, tetapi pada saat yang tepat dan tempat yang pas.Tak harus mengalah bila prinsip kita benar, karena kebenaran bukan diukur dari banyaknya orang berpendapat, namun kebenaran ditentukan oleh aturan yang ada.Readmore...
MALU dan TAKUT itu Dua Sahabat yang Berbeda
MALU dan TAKUT itu adalah dua sahabat seperjuangan. Kedua sahabat tersebut berjuang sekuat-kuatnya agar TUAN-nya terjaga dari segala PENYAKIT HATI yang menyerangnya. Readmore...
Separuh Aku Adalah Separuh Kamu dan Separuh Mereka
Mungkin hari INI aku mengalami INI, di SINI dan begINIlah rasanya. Namun, besok yang ku alami ITU, akan kau alami di SANA dan begITUlah rasanyaReadmore...
ANAK DALAM HAYALAN TINGKAT TINGGI
Kelak ingin ku didik ia dengan dengan segala kebaikan yang ku miliki. Kemudian ku hiasi tempat tidurnya dengan kerlap kerlip Qiro’ah. Readmore...
JANGAN PERNAH MENUNTUT KEMUDAHAN
Mencari kenikmatan dan kebahagiaan hidup bukanlah hal yang sulit. Kenyataan menilai bahwa meraih yang demikian memiliki tingkat kerumitan oleh karena adanya rasa tidak puas, kurang bersyukur dan desakan kebutuhan yang kian kompleks. Readmore...
MOBIL Untuk Si Ganteng Yang Di Usir
Ahok Ngawur Sebut Vatikan yang Pertama Akui Kemerdekaan RI
Ketika itu Ahok menjawab pertanyaan wartawan, apakah ada pembahasan kerja sama dalam kunjungan Dubes Vatikan itu ke Balaikota?
“Tidak ada. Tadi dikasih kenang-kenangan medali Paus, tapi cetakan lama, belum ada cetakan baru. Dikasih buku sejarah Paus keuskupan dari 1947. Kan Vatikan itu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia,” jawab Ahok.
Benarkah Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia? Tentu saja untuk menjawabnya mudah sekali, cukup membuka literatur sejarah.
Nah, berdasarkan penelusuran literatur sejarah, negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia adalah Mesir, bukan Vatikan.
Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan RI pada 22 Maret 1946, disusul oleh Liga Arab (Arab Saudi, Qatar, dan lain-lain) pada 18 November 1946. Setelah itu diikuti Suriah pada 3 Juli 1947, Lebanon dan Irak pada 9 Juli 1947.
Pengakuan kemerdekaan RI secara de facto oleh Mesir pada 22 Maret 1946 itu dilakukan dengan mengakhiri kepengurusan WNI dari kedutaan Belanda di Mesir.
Bahkan, pada tanggal 13 hingga 16 Maret 1947, Konsul Jenderal Mesir untuk India (di Mumbay) yang bernama Muhammad Abdul Mun’im bersama Muriel Pearson (nama samarannya adalah Ketut Tantri, seorang perempuan Amerika yang pro kemerdekaan sejak masa revolusi), datang ke Yogyakarta (Ibukota RI saat itu).
Pada 15 Maret 1947 bertepatan dengan HUT Mesir ke 23, keduanya menghadap Presiden Soekarno untuk mewakili pemerintah Mesir sekaligus utusan Liga Arab guna menjelaskan posisi dukungan mereka terhadap kedaulatan RI.
Bahkan yang menarik, justru dukungan Palestina lebih awal setahun sebelum proklamasi. Palestina diwakili oleh Mufti Besarnya, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini. Pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ dari Syaikh Amin Al-Husaini ke seluruh dunia Islam untuk dukungannya pada kemerdekaan Indonesia.
Sedangkan Vatikan baru mengakui kemerdekaan Indonesia hampir empat bulan setelah pengakuan de facto Mesir atau satu bulan pasca pengakuan de jure negeri piramid tersebut. Yakni, pada 6 Juli 1947 ditandai dengan pembukaan kedutaan yang disebut “Apostolic Delegate” dan menugaskan Georges-Marie-Joseph – Hubert-Ghislain de Jonghe d’Ardoye, M.E.P sebagai Duta Besar Vatikan pertama di Jakarta untuk masa 1947 hingga 1955.
Menyimak literatur tersebut, kiranya pemahaman sejarah Ahok perlu dikoreksi.
Pimpinan Taruna Muslim Alfian Tanjung menambahkan, fakta sejarah menunjukkan negara-negara Muslim yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia.
“Tidak ada dalam sejarahnya Vatikan pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia,” ujar Alfian seperti dikutip itoday, Sabtu (16/3/2013).
Menurut Alfian, dalam sejarah justru Vatikan bekerjasama dengan Belanda untuk menekan pemerintah Indonesia.
“Vatikan mengambil manfaat adanya penjajahan Belanda dengan menyebarkan agama Katolik di Indonesia. Justru Islam yang menjadi ujung tombak perlawanan terhadap penjajah Belanda,” papar Alfian.
Alfian tidak terkejut dengan pernyataan Ahok itu karena ada keinginan yang kuat dari Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut untuk menyebarkan agama katolik di Jakarta.
“Pernyataan itu sangat politis, agar kebijakan Pemprov DKI termasuk kristenisasi mendapat dukungan dari Vatikan,” demikian terang Alfian.
Tentu umat Islam-lah sebagai pemeran utama meraih kemerdekaan ini. Dari desa hingga kota, dari santri dan kiai hingga kaum terpelajar, intelektual, ulama, bersatupadu bersama umat Islam berkuah darah, bermandikan keringat, merebut kemerdekaan republik ini.
Sementara penjajah, khususnya Belanda, tak rela akan kemerdekaan ini. Mereka, sang penjajah Belanda, logis saja berkolaborasi dengan kelompok yang se-ideologi untuk meneruskan penjajahan, sehingga kembali melancarkan agresinya pada 1947 dan 1949, tapi gagal total.
Kelompok dari dalam yang berkomplot dengan penjajah, tentu merasa nyaman jika negeri ini dijajah dengan yang se-ideologi dan sekeyakinan, karena adanya kekhawatiran–saat itu–Indonesia menjadi negara yang berdasarkan Islam
Wartawan dan Juru Kamera Ditangkap Ketika Sedang Siaran Langsung
"Ini situasinya terasa seperti tidak nyata, menurut saya," kata Jones dalam siaran langsung Jumat 15 Maret.
"Saya kira ini juga seperti tidak nyata buat kami," balas Stone.
Dalam perjalanan ke kantor polisi -yang terus disiarkan langsung- seorang polisi Klik Cina tampak sedang merekam gambar Stone.
"Masih di dalam mobil polisi dan beberapa saat lagi akan keluar dari pengalaman yang agak surealis ini, yang bisa memberikan sedikit gambaran tentang apa yang kadang terjadi di Cina," lapor Stone.
Menurut Stone, para polisi yang menangkapnya tampaknya tidak menyadari bahwa dia masih melaporkan langsung ke London.
Alasan tidak jelas
Sky News mengatakan mereka memiliki izin untuk merekam video di Lapangan Tiananmen, tempat unjuk rasa besar antipemerintah tahun 1989, yang menewaskan sekitar 240 pengunjuk rasa.
Stone mengatakan tidak mengetahui dengan jelas alasan penangkapan mereka.
Seorang polisi mendekati mereka dan meminta mereka untuk mematikan kamera karena berada di kawasan Kota Terlarang dan tidak memiliki izin yang tepat.
Namun Stone menduga alasannya adalah karena mereka menyebut unjuk rasa tahun 1989.
"Kami berada di Lapangan Tiananmen untuk merekam gambar dan melaporkan siaran langsung sepanjang hari dan mereka menghentikan kami karena satu kata. Kami berbicara tentang unjuk rasa 1989 dan mereka tidak suka itu," tutur Stone kepada kantor berita AFP.
Dia menambahkan mereka mendapat perlakuan baik dari polisi selama ditahan.
Source : bbc.indonesia
Harun Yahya: Muslim Indonesia agar Menyiapkan Diri Menjemput Masa Keemasan
Cendikiawan Turki Dr. Adnan Oktar yang kondang di dunia dengan nama pena Harun Yahya menyatakan, Muslim Indonesia agar menyiapkan diri menjemput masa keemasan yang datang sepuluh tahun ke depan.
"Asal anda bersatu, tidak terpecah-pecah, Insya Allah kebangkitan Islam di Asia akan berpusat di Indonesia. Kami di Turki akan mendorong 'renaissance' (kebangkitan kembali) yang sama di Eropa," katanya dalam wawancara khusus dengan Antara di kediamannya, pinggiran selat Bhosporus, Istanbul, Turki, Sabtu.
Harun Yahya adalah cendekiawan Muslim yang dihormati dan punya andil besar dalam perjuangan Islamisasi dalam masyarakat Turki yang sekuler.
Ia dianggap tokoh yang mengantarkan kemenangan Partai Keadilan dan Kesejahteraan (AKP) dalam Pemilu di Turki dan keberhasilan Abdullah Gul menduduki kursi orang nomor satu di negara sekuler itu. Abdullah Gul meraih suara mayoritas dari parlemen yang memang didominasi AKP.
Ini dianggap sejumlah kalangan sebagai awal era Islamisasi Turki yang dalam kurun waktu lama sangat kuat memegang sekularisme.
Terhitung, sejak ambruknya Khilafah Islamiyah Turki pada 1924, negeri itu menjadi simbol sekulerisme dipelopori pendirinya, Mushtafa Kamal Ataturk. "Islam sudah bangkit di Turki dan tentu saja di Indonesia," katanya.
Harun pernah datang ke Indonesia dua tahun lalu dalam Konferensi Cendikiawan Muslim dunia dan melihat perkembangan pemahaman dan pelaksanaan Islam yang makin kuat di Indonesia.
Semarak agama dan ibadah sangat terasa, namun dari segi-segi kepartaian dianggap terlalu banyak partai yang berlabel Islam. "Sekarang kehidupan partai di negeri Anda nampak masih berkaum-kaum, nanti Insya Allah akan fokus bersatu," kata Harun Yahya yang menulis ratusan buku dan DVD tentang Islam dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Situs yayasannya bahkan dikunjungi lima juta orang setiap bulan.
Ia menekankan pentingnya kaum Muslim di Indonesia, Turki atau di mana pun untuk berjuang menggapai kekuasaan melalui cara-cara demokratis lewat Pemilu, bukan dengan kekerasan, anarki, apalagi terorisme. "Prinsip Islam itu sejalan dengan demokrasi. Mari berjuang dengan cara (demokrasi) ini," nasihatnya.
Dalam 10 tahun yang akan datang, lanjutnya, Islam akan bangkit setelah terpuruk akibat serangan 11 September 2001.
Islam yang "Rahmatan Lilalamin" sudah dibajak oleh radikalisme Taliban dan Al-Qaida. "Mereka bukan representasi Islam. Mayoritas Muslim adalah moderat dan cinta damai. Terorisme dan kekerasan bukan jiwa Islam," katanya. Tapi radikalisme dan terorisme, justru membuat fobia Islam (ketakutan pada Islam) meningkat di
Eropa dan negara Barat.
Ia mengatakan model pemerintahan masa kekuasan Otoman 500 tahun lalu bisa mengakhiri fobia Islam dan paranoia di Barat terhadap Islam dan kaum Muslimin. Kesultan Otoman (Usmaniyah), katanya, sangat toleran terhadap warga Kristen dan Yahudi selama berabad-abad masa kekuasaannya.
Indonesia dan Turki bisa berperan penting dalam menepis isu terorisme dan Islamophobia di Barat, dan harus berkampanye mencegah prasangka buruk dan pemahaman yang salah tentang isu-isu itu. "Misi kita adalah agar Barat bisa memahami Islam yang sebenarnya dan tidak salah faham terhadapnya," demikian Dr. Harun Yahya. (ant/ah)
Source : Cyber-Sabili-com
Antara Rajasa dengan Al Khattab
Sebenarnya banyak contoh-pejabat yang tegas terhadap kasus seperti ini. Namun yang paling populer ada Perlakuan Khalifaur Rasyidin, Umar Bin Khattab.
Umar bin Khattab bersikap tegas tidak peduli itu anaknya harus diadili dan ternyata dinyatakan bersalah. Umar perintahkan mencambuk anaknya itu 10 kali, secara bertahap Umar terus perintahkan mencambuknya 10 kali berikutnya. Akhirnya Abu Syahamah tidak kuat lagi, sebelum cambukan ke 100 Abu Syahamah menghembuskan nafas terkhir, dan Umar masih memerintahkan satu cambukan lagi sehingga genap 100 cambukan. Kisah Umar dan anaknya ini banyak diceritakan sebagai suatu kisah teladan, betapa tegaknya keadilan itu. Umar pun juga manusia biasa, sebelum meninggal Umar sempat berkata kepada anaknya, “Bahwa ini memang berat bagimu dan untukku, tetapi ini yang terbaik bagimu dan untukku,”. Setelah itu Umar pun menangis kapasitasnya sebagai ayah bagi anaknya.
Rasyid Rajasa terancam enam tahun penjara.
M. Rasyid Amrullah Rajasa terancam hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda Rp12 juta jika terbukti bersalah.
Dakwaan itu dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum yang diketuai oleh Soimah dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (14/2).
Rasyid dijerat dengan dua pasal Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yaitu pasal 229 ayat 4 tentang kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan pasal 310 ayat 4 tentang kecelakaan lalu lintas akibat mengendarai kendaraan dengan lalai.
Tim penasihat hukum Rasyid tidak memberikan tanggapan atas dakwaan itu.
Sidang akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda pemeriksaan saksi dari pihak korban sebanyak empat orang.
Tidak Ditahan....
Salah satu anggota tim Jaksa Penuntut Umum, Emilwan mengelak saat ditanyakan kenapa tidak memerintahkan penahanan kepada Rasyid.
"Itu sudah pernah dijelaskan oleh kepala kejaksaan negeri kenapa terdakwa tidak ditahan salah satunya soal kesehatan," kata dia dan menambahkan kewenangan ada di pengadilan.
Kasus ini mendapat perhatian besar dari publik dan sempat menimbulkan kontroversi karena pada saat penyidikan, Polda Metro Jaya tidak melakukan penahanan.
Pasca pelimpahan kasus ke Kejaksaan Tinggi DKI, Kejaksaan juga tidak melakukan penahanan.
Hingga saat ini belum ada kejelasan apakah memang ada kelompok masyarakat yang berencana mengadakan aksi unjuk rasa di luar pengadilan hari ini.
Namun di dunia maya, ratusan orang telah menandatangani petisi online menuntut agar Rasyid "diperlakukan sesuai rasa keadilan masyarakat."
Petisi yang dipublikasikan di situs Change.org itu dibuat oleh aktivis Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Muhammad Isnur.
Sudahlah Pak Hakim, Pak Pejabat....!!!! Anggap itu kado istimewa buat hukum di Negeri ini alias Sotoloyo. Sekali-sekali rasane piye??? He'emmmmm
Sumber : berbagai
Tentukanlah, dengan siapa kau merasa BAHAGIA
BAHAGIA bukan datang dari Orang Tua, bukan dari Orang Lain, tetapi dari Diri yang Menjalani. yang merusak ke BAHAGIA an bukan oleh Orang Tua, bukan oleh Orang Lain, tetapi oleh DIRI yang menjalani.
--> Tentukanlah, dengan siapa kau merasa BAHAGIA
Tentu saja kita tidak lupa Kisah klasik Siti Nurbaya yang sampai hari ini masih menginspirasi sekian banyak orang yang mana kehidupan asmaranya dicampuri oleh orang tua. Dalam hal ini, orang tualah yang menentukan siapa calon suami/istri yang membahagiakan baginya.
Tulisan kali ini mengangkat topik tentang intervensi orang tua terhadap jodoh yang mengarah kepada harapan akan sebuah kebahagiaan.
Sebenarnya, Semua telah diciptakan dengan berpasang-pasangan, baik hal terkecil pun sampai terbesar semuanya sudah mempunyai pasangannya sendiri, dan pasangan yang sudah ditentukan tak dapat lagi dipisahkan. Begitu juga manusia, manusia pun juga sudah ditentukan pasangannya siapa, jodohnya siapa, pendamping hidupnya siapa, dan sebagainya.
Benar sekali jodoh itu sudah ada yang menentukan, tetapi tidak dengan tinggal diam saja dan menunggu, tetapi harus disertai dengan sebuah ikhtiar dan do'a, hal ini dilakukan agar jodoh yang sudah ditentukan benar-benar yang terbaik bagi kita.
Namun bagaimana kita mengungkap sebuah makna "Ketika Jodoh Di Tangan Orang Tua." Sungguh hal menarik bukan? Sudah tak perlu kaget jika sekarang makin marak orang tua yang menjodohkan anaknya dengan pilihannya. Mungkin bagi orang tua ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, orang tua sebenarnya bagus untuk menentukan jodoh anaknya atas pilihannya.
Tetapi ada beberapa hal alasan orang tua menjodohkan anaknya dengan pilihannya:
a. Tidak Ingin Anaknya Sengsara
Orang tua yang beralasan seperti ini biasanya terjadi karena calon pendamping hidup yang dipilih anaknya sendiri tidak memenuhi kriteria, misalkan saja (maaf) penuh keterbatasan. Keterbatasannya baik secara materi ataupun disabilitas. Nah, anaknya yang cantik dan mungkin saja tingkatannya lebih tinggi membuat pandangan orang tua berbeda, disini akan terlahir sebuah pandangan bahwa kebahagiaan itu tidak akan terjadi jika dua orang berlawan jenis berbeda tingkat annya.
b. Orang Tua Malu
Malu dong jika pilihan anaknya jauh banget dari kriteria, kita kan orang besar, malu sama tetangga, sama rekan masak calonnya seperti ini, sudah terlihat masa depan suram. hehehe. Ya paling tidak sepadan lah, jangan yang seperti ini. Bla...bla..bla...
c. Alasan lain
Dan alasan lainnya adalah bahwa orang tua menjodohkan anaknya dilihat dahulu dari keturunan siapa, pekerjaan nya apa, dan lain-lainnya. Sudah pasti orang tua yang menjodohkan anaknya punya beberapa alasan lainnya yang lebih penting lagi. Misalkan saja berhati-hati sebelum terlanjur menyesal, melihat bahwa calonnya anak pen*ahat, anak peng**is, dan tidak rajin beribadah dan lain-lainnya, untuk lebih memastikan bahwa anaknya nanti bisa hidup bahagia.
Sebenarnya hal yang wajar jika orang tua menginginkan anaknya bahagia, disini ada dua pertanyaan yang mungkin bisa dijawab oleh orang tua? Apakah menjodohkan anaknya dengan calon pilihannya itu benar-benar ingin membahagiakan anaknya ataukah ingin membahagiakan dirinya sendiri? Penulis yain 1000% orang tua akan bahagia jika anak menuruti pilihan orang tuanya, tetapi ada satu pertanyaan yang lebih penting lagi, apakah orang tua yakin? bahwa anak yang dijodohkan bukan pilihannya membuat dia bahagia? Ehemm, sudah dipastikan dihati terdalam anak ada sebuah keterpaksaan, sebuah tekanan, dan semua itu demi kebahagiaan orang tuanya.
Jika sang anak memilih jodohnya sendiri dan itu tidak cocok bagi orang tuanya, pasti orang tuanya akan sedih. Begitu juga sebaliknya, jika orang tuanya memilihkan jodoh untuk anaknya dan tidak cocok bagi anaknya, maka anaknya pun sedih.
Sebenarnya dalam hal memilih pasangan hidup, tanda ia jodoh adalah adanya kecocokan dan saling keterikatan, tidak masalah perbedaannya dari segi apa, perbedaan bukan lah yang menentukan kebahagiaan, nabi muhammad saw adalah anak yatim piatu dan miskin tetapi mendapatkan jodoh yang kaya raya, tetapi beliau dengan istrinya sangat bahagia sekali.
Jadi, hak memilih pasangan hidup adalah anaknya dan hak orang tua hanya memberikan pesan, pendapat, dan dukungan bukan dengan memaksa anaknya. Dan satu hal lagi, yang menentukan kebahgiaan adalah restu dari orang tua, jikalau memang pilihan anaknya tidak cocok, hal yang pantas dilakukan oleh orang tua adalah selalu berdoa dan meluaskan restu untuk anak dan menantunya, pasti dengan itu akan sama-sama bahagia nantinya. Dan anak pun juga demikian, hendaklah memilih pasangan yang benar-benar pasangan itu bisa diajak berubah menjadi baik dan memiliki sopan santun dan etika.
Semoga Bermanfaat
CAGUB KOK POLIGAMI?
Oleh : Paox Iben Mudhaffar
Memprihatinkan. Hanya kata itu yang sanggup saya ucapkan ketika sebagian besar calon gubernur NTB, termasuk incumbent--disinyalir melakukan praktik Poligami. Bahkan salah seorang calon disinyalir memiliki istri lebih dari dua. Jikapun ada calon yang tidak berpoligami, namun diinternl partai pengusungnya, para kader partai ini –sebagaimana dikemukakan sang pendiri diberbagai media--sering diasumsikan sebagai orang-orang yang pro-poligami. Memang ada yang salah dengan Poligami?
Dalam sejarah Islam maupun kajian fikih klasik, poligami memang memiliki legitimasi yang cukup kuat. Meminjam istilah Derrida, hal itu seakan telah menjadi logosentrisme: kebenaran yg terang-benderang dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Sebab selain mendapat legitimasi tekstual (nash) juga mendapat dukungan secara kultural dan terus direproduksi dalam praktik atau wacana sosial. Tapi jelas pula, dalam kehidupan modern, praktek poligami amat problematik. Apalagi jika itu menyangkut pejabat publik semisal calon Bupati atau Gubernur ini. Kita tidak bisa menutup mata jika persoalan istri para pejabat adalah semata persoalan privat, individual, yang tidak boleh diketahui oleh publik. Sebab ketika seorang (laki-laki) menjadi pejabat biasanya secara otomatis, istrinya juga menduduki posisi strategis dalam lembaga-lembaga publik semisal organisasi Dharma Wanita, Tim Penggerak PKK dst. Organisasi tersebut juga di support oleh dana pemerintah yang nota bene adalah uang publik. So, bukankah persoalan ini layak menjadi perbincangan publik? Apalagi seorang Istri pejabat sekelas gubernur! Biasanya istri pejabat itu juga terlibat aktif dalam kampanye program-program pemerintah ketika suaminya menjabat. Lihat saja foto-foto mereka di sepanjang jalan atau di depan kantor-kantor pemerintahan.
Kemandulan Teologis
Dalam konteks Fiqiyyah maupun diskursus tafsir keagamaan kontemporer, mempraktekkan poligami dalam masyarakat modern sekarang ini bisa dibaca sebagai bukti kemandulan teologis. Dari sisi historis, konteks pembolehan poligami dalam Islam pada mulanya bertujuan justru untuk membatasi, bukan menambah jumlah istri. Sebab, dalam masyarakat Arab ketika itu, perempuan ibarat "obyek" yang boleh diapasajakan oleh laki-laki. Maka banyak orang, termasuk Umar ibn al-Khatab, sebelum menjadi muslim, tega mengubur bayinya yang terlahir perempuan. Di masa Arab jahiliyah, orang bisa beristri berapa saja, siapa saja. Asalkan mampu, asalkan bisa.
Kemudian Islam datang dengan menawarkan sebuah aturan "jika terpaksa, maksimal empat". Mengapa empat? Kajian Leonard Swidlerdalam Women in Judaism: The Status of Women in Formative Judaism (1976: 144-8) cukup menarik disimak. Sebagaimana bisa diduga, poligami adalah praktek budaya yang dulunya juga lumrah di kalangan kaum Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, rupanya pembolehan poligami juga dibatasi sampai maksimal empat. Agaknya, poligami sebagai model hubungan lelaki-perempuan yang turun-temurun diwarisi dari tradisi Yahudi itu di zaman Muhammad SAW telah berkembang demikian tak terkendali di tanah Arab. Sehingga Al-Quran kemudian mengembalikan tradisi itu kepada batas toleransi "maksimal empat" tersebut.
Terlepas benar-tidaknya hal di atas, menurut hemat saya, pada dasarnya monogami adalah bentuk hubungan sah lelaki-perempuan paling ideal dalam Islam. Sebab kata kuncinya adalah “ADIL” . Jika kita baca kembali terutama QS 4: 3-4, dan ditegaskan lagi dalam (QS 4: 129), adil itu hampir mustahil bisa dicapai seorang suami beristri lebih dari satu. Artinya, dengan pesan universal yang bisa diterima pemahaman manusia dari berbagai latar budaya dan sejarah, dengan ketentuan "maksimal empat" itu, Al-Quran sebenarnya sedang meletakkan fondasi penting buat kesederajatan lelaki-perempuan. Dengan "adil" sebagai hakikat pesannya, soal wujud hubungan legal itu selanjutnya diserahkan kepada kematangan umat Islam dalam mempraktekkannya. Tapi arahnya jelas, dari satu laki-laki dengan jumlah istri tak terbatas, menjadi maksimal empat istri, menuju monogami sebagai bentuk ideal.
Karena watak patriarkis yang mengidap ketidakadilan itu, jangan lupa, dari sisi hukum, poligami juga selalu menjadi perdebatan aktual. Ingat, betapa tidak berkenannya Rasulullah saat Ali r.a., sang menantu, menunjukkan isyarat hendak memadu Fatimah, putri kesayangannya. Sembari berdiri di atas mimbar, Rasulullah berkata, "Aku tidak akan kasih izin, kecuali Ali ibn Abi Talib terlebih dulu menceraikan anak perempuanku jika ia mau mengawini anak-anak gadis mereka. Sebab, Fatimah adalah bagian dari tubuhku, aku membenci apa yang dia benci untuk dilihat, dan apa yang melukainya juga melukaiku" (Sahih Bukhari, Vol. 7, Kitab 62, No. 157).
Sekali lagi, jika diskusi seputar isu poligami ini ditambatkan hanya pada soal hukum, kita tidak akan sampai ke mana-mana. Lebih-lebih menempatkannya semata sebagai urusan pribadi. Ini adalah persoalan sosial, perkara relasi kuasa yang timpang, masalah ketidakadilan atas kaum perempuan. Jelas pula, status poligami mendesak untuk direvisi kedudukannya dalam hukum Islam yang kita anut. Menggugat poligami dalam konteks masyarakat kita bukanlah menentang ayat Tuhan, melainkan justru menerjemahkan pesan esensial dari agama Islam: tentang keadilan. Dan perempuan, sebagai kaum yang dilemahkan sekian lama, menurut Chandra Mohanty dalam Feminism without Borders (2003: 236) memiliki "potential epistemic privilege" guna mewujudkan sistem sosial yang adil bagi semua pihak.
Mengekalkan Penindasan
Sebagai pemimpin yang dijadikan panutan banyak orang, mempraktekkan tindakan yang dari banyak segi jelas problematik amatlah tidak mendidik. Demikian juga yang terjadi dibumi Nusa Tenggara Barat ini. Ketika seorang pemimpin atau calon pemimpin mempraktikkan poligami, maka ia telah “menyakiti” sebagian besar ranah publiknya sendiri dengan menimbulkan huru-hara pewacanaan yang kontra produktif terhadap arah pembangunan dan cita-cita kepemimpinannya.
Ketika masyarakat, mendengar rumor Gubernurnya yang masih muda, Tuan Guru dan “ganteng” itu kawin lagi misalnya, publik pun—terutama ibu-ibu diperkampungan-- berekasi cukup keras. Apa pasal? Sebab ia bukan sekedar sosok idola sebagaimana para artis. Ia adalah sosok panutan; Muda, cerdas, berkuasa, dan layak menjadi panutan karena predikatnya sebagai Tuan Guru. padahal itu baru rumor(yang bersangkutan sllu menolak berkomentar soal itu). Publik pada umumnya sangat menaruh harapan jika Gubernur NTB TGH M. Zainul Majdi baik secara pribadi maupun sebagai tuan guru adalah sosok yang moderat dan terbuka, karena itu ia akan memberi suri tauladan yang baik serta “melindungi” hati para pengikutnya, terutama para ibu-ibu dan perempuan pada umumnya dengan memberantas budaya kurang baik.
Dengan melakukan Poligami, itu sama saja memberi anjuran dan memberi legitimasi kepada setiap lelaki di Nusa Tenggara Barat ini untuk melakukan praktik yang sama. Hal tersebut juga sangat kontra produktif misalnya dengan kampanye keluarga sehat, sejahtera, yang selama ini digembar-gemborkan pemerintahan yang dipimpinnya. Bukankah keluarga itu merupakan pilar utama pembangunan?
Dengan melakukan praktik poligami, sesungguhnya dia telah terjerat dalam permainan kekuasaan patriarkhis dan mengekalkan struktur penindasan terhadap kaum perempuan secara nyata.
Memang belum ada penelitian yang secara rigid menyebutkan, berapa jumlah poligami yang dilakukan di NTB ini, berapa istri-istri berikut anak-anak yang terlantar akibat praktik “semena-mena” itu. Berapa kasus KDRT yang terjadi dalam rumahtangga yang melakukan praktik Poligami? Apa efek sosial dan budaya dari hal ini. Semua itu memang belum muncul kepermukaan, tetapi publik, terutama ibu-ibu dan kaum perempuan-- tidaklah buta.
Jika kita menerima bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan, baik secara sosiologis maupun teologis, memang sederajat, mari kita bersepakat pula bahwa poligami bukanlah persoalan pribadi. Sebagai praktek sosial, ia adalah lembaga patriarkal yang memberikan privilese kuasa bagi laki-laki sembari menempatkan perempuan sebagai pecundang. Jangan lupa, jika ditelusuri, nalar ini tidak berhenti di sini. Ketika asumsi "lelaki superior, perempuan inferior" telah diterima sebagai common sense, siapa saja yang"dilelakikan" dengan sendirinya memiliki privilese atas kuasa dan kebenaran. Sementara itu, siapa saja yang "diperempuankan" harus tunduk sebagai kaum lemah yang sewaktu-waktu siap sedia menjadi korban, menjadi tumbal.
Karena itu, sesuai dengan capaian kematangan kita dalam pemahaman atas keadilan, termasuk kesederajatan laki-laki dan perempuan, secara sosiologis poligami tidak bisa dibenarkan. Dalam hal ini, isyarat positif pemerintah untuk segera memperluas cakupan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil perlu mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Penutup
Mencermati perkembangan perpolitikan di NTB, terutama diseputar pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Barat ini, saya jadi sangsi, adakah calon Gubernur yang berpihak pada nasib kaum perempuan? Padahal merekalah jumlah penduduk terbesar, sekaligus pemilih terbesar dan potensial yang diperebutkan oleh para kandidat. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Wacana peningkatan kualitas IPM yang menjadi agenda utama para kandidat, termasuk pengentasan gizi buruk dll tentu akan mengalami hambatan yang signifikan. Apa pasal? Sebab kekerasan struktural yang berbasis pada pembiakan budaya patriarkhal ini akan terus berlangsung dan itu, tentu saja akan mengesampingkan program keluarga harapan seperti digembar-gemborkan pemerintah melalui program PKH yang sudah berlangsung.
Saya juga tidak tahu bagaimana kesan dan tanggapan para aktivis perempuan pada umumnya dengan fenomena ini. Namun dari beberapa komentar di facebook, saya cukup kaget juga sebab nampaknya sebagain mereka—terutama yang berafiliasi dengan parpol pendukung kandidat calon gubernur justru bersikap kooperatif dengan mendomestifikasi persoalan poligami ini sebagai ranah personal. Wallahu’alam bi al shawwab
Mataram, 13 Feb 2013
Inilah Hikmah Kenapa Hubungan Suami-Istri Saat Haid Dilarang Al Quran
Dalam ajaran Islam, hubungan suami-istri pada saat istri sedang masa haid atau menstruasi merupakan perbuatan terlarang. Dalam dunia medis pun, hal itu juga tidak disarankan. Bahkan berpotensi kuat merugikan kedua pasangan.
Tak dipungkiri bahwa hubungan suami istri adalah aktivitas paling menyenangkan bagi banyak orang. Selain meningkatkan keharmonisan rumah tangga, hubungan suami istri juga meningkatkan keharmonisan secara keseluruhan.
Hubungan Suami Istri saat Haid
Laura Berman, PhD, seorang pakar seks dan terapis dari Feinberg School of Medicine, Northwestern University, Chicago seperti dilansir DuniaFitnes.com mengatakan, berhubungan seks saat haid dapat merugikan kesehatan kedua pasangan. Beberapa risiko kesehatan yang bisa terjadi akibat melakukan seks saat haid antara lain:
Penyakit Menular Seksual
Saat wanita mengalami menstruasi leher rahim akan terbuka. Terbukanya leher rahim tersebut dapat mempermudah kuman dan bakteri masuk bahkan menyebar hingga ke rongga pinggul. Wanita juga berpotensi tertular virus HIV dan hepatitis jika melakukan hubungan seks saat menstruasi.
Risiko Infeksi
Saat menstruasi, dinding vagina akan mengalami inflamasi atau pembengkakan sebagai proses alami tubuh. Saat inflamasi terjadi, lapisan dinding rahim akan mengalami peluruhan berbarengan dengan keluarnya darah haid. Darah tersebut merupakan media yang berpotensi mengembangkan kuman dan bakteri yang bisa mengakibatkan infeksi saluran kencing, sperma, dan prostat pada pria.
Endometriosis
Istilah tersebut pasti masih asing di telinga Anda. Endometriosis mengacu pada pertumbuhan sel-sel di luar endometrium (dinding rahim) atau di tempat lain. Dalam tingkat lanjut pertumbuhan sel-sel tersebut akan memicu rasa nyeri saat haid, atau biasa disebut dengan dismenore.
Salah satu faktor penyebab endometriosis adalah regurgitasi atau aliran balik darah haid dari dalam rahim ke saluran indung telur dan masuk ke dinding perut. Ini dapat terjadi jika Anda melakukan hubungan seks saat haid.
Sudden Death
Gerakan penis pada saat berhubungan seks di masa haid juga bisa menjadi pemicu terjadinya gelembung udara ke pembuluh darah yang terbuka. Para ahli medis mengkhawatirkan, jika emboli atau gelembung udara tersebut masuk ke dalam pembuluh darah maka akan mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan bisa mengakibatkan “sudden death” atau mati mendadak.
Larangan dalam Islam
Beberapa risiko di atas merupakan uraian penjelasan dalam sudut pandang kesehatan dan medis. Namun tahukah Anda, 1500 tahun silam, Islam sudah memberitahu hal tersebut melalui Al Qur'an dalam surat Al Baqarah ayat 222.
Tips Menghafal Al Quran Dari Palestina
CATATAN MENGENAI FILM HAFALAN SHOLAT DELISA
Saya membaca novel ‘Hafalan Sholat Delisa’ sudah lama sekali. Beberapa tahun yang lalu. Sungguh, novel yang ditulis dengan sangat apik oleh Tere Liye ini berhasil ‘membius’ imajinasi saya. Terlebih lagi saya sempat tinggal beberapa bulan di Aceh dan mempunyai orang tua angkat dan saudara-saudara yang ketika berpisah untuk kembali ke NTB membuat saya menangis seperti anak kecil di atas pesawat yang membawa saya meninggalkan mereka.
Karena itu, ketika mendengar kabar bahwa novel ini akan difilmkan, saya berdebar. Menyiapkan keharuan untuk menyaksikan dahsyatnya tsunami, sambil membayangkan bapak saya, keuchik Amir, yang kehilangan beberapa orang kerabat di Aceh sana. Bahkan ada yang sampai sekarang tidak diketahui jejak keberadaannya.
Dan sungguh, membaca ‘Hafalan Sholat Delisa’, saya menangis. Hehehe… karena lewat novel itu, saya belajar dari seorang anak kecil yang kehilangan saudara-saudaranya, dan juga ibu tercinta karena dahsyatnya tsunami.
Bagaimana dengan filmnya?
Sepanjang menonton film ini keterharuan yang sama melanda hati saya. Bahkan mata saya hamper berair. Didukung lagi oleh acting Reza Rahadian yang begitu alami, juga acting Delisa (Chantiq) yang terkesan begitu kekanakan. Dalam hal ini, harus diakui, sutradara Sony Gaokasak berhasil menciptakan sebuah suasana yang lumayan bagus.
Namun, entah mengapa, sebagai orang yang pernah tinggal di Aceh, saya tidak merasakan sama sekali suasana Aceh dalam film ini. Baik dari logat pemain maupun latar yang dihadirkan. Bahkan menurut saya, acting Nirina Jubir (pemeran Mak Delisa, Ummi Salamah) kurang natural dan keibuan.
Never mind! Itu masih bias dimaklumi. Tapi… ketika sampai di menit-menit terakhir menonton film ini. Pas di ending (bagian yang paling saya tunggu-tunggu), entah mengapa, saya ingin tertawa. Hilanglah semua suasana yang dibangun oleh sutradara dari awal. Di novel digambarkan Delisa bertemu dengan Ummi-nya yang tinggal tulang belulang sambil memegang kalung bertuliskan huruf D, D untuk Delisa. Ketika Delisa selesai menghafal bacaan sholatnya.
Di film?
Di filmnya kita akan melihat Nirina Jubir tidur di atas pasir (mati?) sambil memegang kalung. Kalung itupun diambil oleh Delisa dari tangan Nirina Jubir. Begitu saja. Dan… aneh! Sangat aneh! Bagaimana mungkin setelah beberapa bulan sejak Tsunami mayat Nirina Jubir (ummi salamah) masih normal dan tdk berubah suatu apapaun?
Ending ini sangat BERHASIL menghancurkan seluruh bagian-bagian yang bagus di film ini.
Intinya, film ini mengecewakan. Sekian. :D
CINTA NABI BUKAN DENGAN MAULID NABI
A : Agus
A : Besok hari Maulid Nabi, Bro. Apa rencanamu buat merayakan hari lahir Nabi kita?
S : 'Afwan, Akhi.... Ana tidak merayakan Maulid Nabi.
A : What ?? Are you crazy?! Kenapa kamu ga mau merayakan Maulid? Ini Nabi kita loh... Apa kamu tidak cinta sama Nabimu sendiri??
S : Apakah cinta Nabi harus direalisasikan dengan perayaan Maulid Nabi?
A : Yah.....setidaknya itu salah satunya.
S : Kalau begitu, semua para Shahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in, bahkan 4 Imam Madzhab yang kita kenal, mereka semua tidak mencintai Nabi, menurut versimu.
A : Lho.....kok bisa?
S : Iya, karena tidak ada satupun dari mereka yang mengamalkan peringatan Maulid Nabi. Sesungguhnya para Salaf yang shalih tak satupun yang mencontohkan perayaan Maulid. Bahkan Imam madzhab, termasuk Imam Syafi'i yang selalu kalian klaim sebagai Imam madzhab kalian, semuanya tidak ada yang merayakan Maulid Nabi. Ketahuilah, munculnya awal mula Maulid adalah di masa Bani Fathimiyyah, yang disebut para Ulama sebagai kaum zindiq munafiq yang sangat jauh dari Islam.
A : Tapi...menurutku tidak masalah kita rayakan Maulid Nabi. Toh ini perkara kebaikan, niat kita juga baik kok, ingin mengagungkan Nabi dan menampakkan syiar Islam. Masa' kita kalah sama orang Kristen yang punya Natal buat merayakan kelahiran Yesus...?!
S : Ini jawabanku, tolong dengarkan baik-baik ya Akhi...
Pertama, agama ini tidak dibangun di atas prinsip "menurutku", tapi menurut Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengajarkan Maulid Nabi, tidak di Al-Qur'an, tidak pula dalam hadits.
Kedua, niat baik semata tidak cukup menjadikan suatu amalan dikatakan sholih atau benar. Melainkan harus melihat juga cara yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Suatu amal tidak akan diterima kecuali dengan 2 syarat: ikhlas dan ittiba', yakni mengikuti aturan yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Camkanlah ucapan 'Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu: "Kam min muriidin lilkhoiri lam yushib-hu" (Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak memperolehnya). Kenapa? Karena caranya keliru. Hanya bermodal semangat dan niat baik, tanpa dilandasi ilmu yang haq. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Man 'amila 'amalan laisa 'alaihi amruna fahuwa roddun" (Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah/contoh dari kami, maka amalan tersebut tertolak). Apa dalil ini kurang jelas?
Ketiga, bahwa untuk mengagungkan Nabi bukanlah dengan cara-cara yang tidak syar'i, yang tidak pernah diajarkan oleh Islam. Nabi datang membawa ajaran Islam, tapi kalian malah membuat ajaran baru di luar Islam, parahnya lagi ajaran di luar Islam itu kalian maksudkan untuk mengagungkan Nabi. Bisakah diterima oleh jiwa dan akal sehat?
Keempat, bahwa tidaklah dikatakan syiar Islam kecuali ajaran-ajaran yang nyata berasal dari Islam. Dan tidaklah dikatakan ajaran Islam kecuali yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan Maulid Nabi? Itu tidak datang dari Allah dan Rasul-Nya. Berarti Maulid Nabi bukan ajaran Islam, dan berarti sedikitpun tidak mengandung unsur syiar Islam.
Kelima, dalam banyak ayat dan hadits, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar menyelisihi kebiasaan orang kafir, baik dari aspek aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalah. Lantas, mengapa kita harus latah mengikuti kaum Kristen dengan ritual Natal mereka, kemudian kita ikut-ikutan merayakan Maulid Nabi?? Bukankah ini bentuk tasyabbuh (penyerupaan) terhadap kaum kafir yang dilarang agama kita? Sungguh, kita sebagai umat muslim, telah dimuliakan oleh Allah dengan 'izzah Islam kita. Islam ini sangat agung dan mulia. Jadi, tidak perlu kita minder dengan apa yang sudah digariskan dalam agama kita. Kalau Islam telah menetapkan tidak ada ajaran Maulid Nabi, ya marilah kita terima ini apa adanya dengan penuh bangga dan terhormat, bukannya malah mencari-cari ajaran baru demi bisa menyamai ajaran kafir.
A : Tapi......kalau kita tidak adakan Maulid Nabi, gimana dong caranya supaya kita bisa menunjukkan bahwa kita ini cinta terhadap Nabi kita?
S : Caranya adalah dengan kita mengamalkan semua ajaran Rasul, baik secara aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalah. Kita praktekkan sunnah-sunnah Nabi dalam keseharian kita, dari tidur sampai tidur lagi. Justru dengan cara inilah kita bisa mengenang Nabi setiap hari, mencintai dan mengagungkannya setiap saat; bukan cuma setahun sekali, itupun dengan cara yang identik dengan hura-hura, nyanyi-nyanyi, rebanaan, habis itu makan-makan. Sepulang dari acara itu, wanita yang biasanya pamer aurat tetap buka aurat, yang merokok tetap merokok, yang hobi musik tetap larut dalm musik, yang suka pacaran tetap pacaran, yang biasa mabuk judi tetap jalan, yang tidak pernah sholat ya tetap tidak sholat, masjid tetap sepi tak ada jama'ah sholat. Mana manfaat dari Maulid Nabi yang baru saja diadakan? Inikah namanya cinta Nabi??
A : Hmmm...iya iya...betul juga ya...
S : Barakallahu fiik.......
Belajar Tentang Perang Salib di Qal'atul Hosn
Hari ke-97 Pak Jokowi di DKI
Namun, Gula tetaplah Gula, Pak Jokowi tetaplah Pak Jokowi. Jika Gula rasanya akan selalu manis, namun tidak demikian bagi Pak Jokowi. Menjadi Kepala Daerah di DKI Jakarta bukannya menikmati santapan enak nan lezat atau merasakan nyenyaknya tidur di kasur empuk setara pejabat-pejabat lain. Justru malah beliau dihadaptugaskan dengan kepahitan air banjir yang tengah melanda wilayah kekuasaannya.
Bayangkan saja di hari yang ke 97 ini, Banjir yang melanda Ibu Kota Negara telah menelan kerugian telah mencapai triliunan rupiah. Allahu Akbar. Banjir kali ini tercatat merupakan banjir terbesar sepanjang sejarah panjang Banjir di DKI.
Yang Sabar ya Pak....!!!
Saya yakin dengan kerja keras, ketekunan serta kesabaran Bapak beserta jajaran anda, Insya Allah kondisi Jakarta akan kembali Normal. Aamiin..
Lanjut ke kiprah pak Jokowi di hari yang ke 97.
Pak Joko mengajak semua elemen masyarakat pada umumnya lebih-lebih jajaran-jajaran kepemerintahan di DKI agar bersama-sama bahu membahu mengatasi, serta memecahkan masalah banjir yang menjadi langganan DKI setiap tahunnya.
Pilihan kabar detikNews berhubungan dengan hal di atas menyangkut :
5 Arahan Jokowi ke Wali Kota dan Camat Terkait Banjir
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) memanggil semua Wali Kota, camat, dan instansi terkait dalam rangka tanggap darurat banjir. Jokowi memberikan 5 arahan penting, sebagai berikut."Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang bekaitan dengan banjir yang kita hadapi sekarang ini. Lapangan yang saya lihat sementara ini masih dikelola dengan baik hanya saja ini kesulitan-kesulitan di lapangan bisa disampaikan secara cepat ke atas. Sampai saat ini saya belum pernah belum adanya keluhan-keluhan. Hal yang sangat kecil belum disampaikan ke saya. Tolong disampaikan ke saya," kata Jokowi saat memimpin rapat "Pengarahan Gubernur Provinsi DKI Jakarta kepada Para Walikota dan Camat Tentang Pengendalian Banjir di Wilayah DKI Jakarta" di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta, Minggu (20/1/2013).
Arahan pertama, Jokowi ingin semua jajaran Pemprov DKI memperhatikan isu-isu besar di masyarakat. Setiap ada kerusakan infrastruktur penting harus diperhatikan dan dilaporkan.
"Isu-isu besar masyarakat harus memperhatikan. Jebolnya bendungan di Latuharhary, harus menjadi fokus. Jangan sampai tambah besar, tambah besar. Seperti itu, tolong segera diberitahukan," kata Jokowi yang menganakan kemeja putih dan celana kain hitam khasnya tersebut mengawali arahannya.
Jokowi menyesalkan banjir di basement Plaza UOB di Jl MH Thamrin yang memakan korban jiwa. Dia menyayangkan tidak ada yang menginformasikan kepadanya sejak hari pertama.
"Kedua adanya korban, misal di UOB. Kalau memang diapastikan ada korban di dalam. Semestinya hari pertama konsentrasi di sana. Korban manusia menjadi prioritas nomor 1. Saya mesti diinfo dari BNPB, Pemadam Kebakaran, saya bisa menentukan apa yang bisa kita kerjakan. Hal-hal yang menyangkut keselamatan manusia harus dinomor 1 kan," kata Jokowi.
"Ketiga, memastikan kebutuhan dasar, suplai makanan, air bersih, MCK, selimut, pakaian, pastikan ada di pengungsian-pengungsian besar. Jadi prioritas. Yang keempat, Pak Walikota, membangun partisipasi lokal, pengusaha, masyarakat, untuk melakukan tindakan tanggap darurat ini," lanjut Jokowi.
Dia lantas meminta semua kegiatan penting dipastikan berjalan dengan baik. Sekolah-sekolah harus tetap dilakukan dengan pelajaran ringan, evakuasi banjir di tempat yang kurang aman harus disegerakan.
"Kelima sampaikan kegiatan yang penting-penting tadi, Sekda, baik menyangkut adanya jumlah korban, cakupan luas bencana dan jumlah pengungsinya, kemudian perkembangan evakuasi. Kita lihat di Pluit, Penjaringan, masih banyak yang perlu dievakuasi karena tidak mau ke luar dari rumahnya, kemudian prasarana sekolah, Kadis pendidikan ada? Tolong nanti disampaikan. Berikan pelajaran yang ringan-ringan kepada anak-anak, pastikan ada di tempat," tegasnya.
"Terakhir, situasi dan kondisi pelayanan umum dijaga. Kita berharap tidak ada hujan besar, tapi bapak ibu juga harus bersiap-siap, Minggu depan akan ada hari hujan besar, pas air pasang naik. Siapkan sarana prasarana evakuasi kalaupun nanti terjadi," pungkasnya.
(van/mad)
Hasil Penelitian Terhadap Kucing Ungkap Kehebatannya
Tidak seperti anjing yang menggunakan lidah untuk meraup air ke dalam mulut, kucing menggunakan ujung lidah untuk menarik air ke atas kemudian menutup rahang sebelum gravitasi membuat air kembali turun.
Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Selain itu, diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan mengusap lidah.
Hasil yang kami dapatkan sebagai berikut:
- Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif, meskipun dilakukan berulang-ulang.
- Perbandingan yang ditanamkan memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
- Cairan yang diambil dari permukaan lidah memberikan hasil negatif.
- Kuman yang ditemukan saat proses penelitian dilakukan berasal dari kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berasal dari kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
- Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.
Dalam kaca mata fisikawan, kucing jauh lebih baik daripada anjing, setidaknya dalam hal minum. Hewan itu memiliki keseimbangan yang sempurna.
Hapus Tradisi Malam Minggu
Aduuh, kalo udah ngomongin malam minggu, seru abis deh jadinya. Kayak lagu yang dibawain Bang Jamal Mirdad “Malam minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran, pacar baru, baru kenalan, kenal di jalan jendral sudirman.” Lain Bang Jamal, lain pula Mas Jikustik. Lagunya yang berlirik, “Malam ini malam minggu, kau menunggu di rumahmu, selamat malam dunia, ku siap tuk berpesta, tunggu aku disana, bertemu oh baby, selamat malam dunia, gairahku berpesta, kita lewati malam, berdua oh baby”.




