
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. dari Rasulullah saw... bahwa beliau
bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang melakukan dengan terang-terangan
berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan
azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)
Cobaan dan ujian
merupakan salah satu sunnatullah diantara sekian banyak sunnatullah yang
Allah ‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka bumi. Dalam
Al-Qur’an Allah swt. menggambarkan bahwa ujian dan cobaan yang menimpa
insan merupakan :
1. ‘Sarana’ untuk mengungkap keimanan seseorang; apakah seseoang benar benar beriman atau tidak:
الم
{1} أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ
لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
{3}
“
Alif laam miim.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya
Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya
Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut/ 29 : 1-3)
2. Cobaan dan ujian merupakan ‘hakekat’ dari kehidupan insan di dunia.Allah swt. berfirman :
تَبَارَكَ
الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1}
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ
عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2}
Maha
Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa
lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk/ 67 : 1-2)
3.
Cobaan dan ujian sebagai sarana untuk introspeksi diri dan pelajaran
agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah kepada Allah swt. Allah swt. berfirman,
فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ {40}
Maka
Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka
ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qashas/ 28 : 40)
4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan ketaqwaan seseorang kepada Allah swt. Rasulullah saw. bersabda :
Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada Rasulullah saw., ‘
Wahai
Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya? Beliau
menjawab, ‘Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi,
kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah
berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh maka akan semakin berat
cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan
keimanannya tersebut. Dan cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba
hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka bumi seperti ia tidak
memilki satu dosa pun. (HR. Turmudzi).
5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk kecintaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Rasulullah saw. bersabda :
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘
Besarnya
suatu pahala adalah tergantung dari besarnya ujian dari Allah. Dan
sesungguhnya Allah swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji
mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha, maka Allah pun
memberikan keridhaan-Nya. Dan siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah
pun marah terhadapnya. (HR Turmudzi & Ibnu Majah)
Bencana Alam ; Antara Cobaan, Ujian dan Azab Allah swt.
Sering timbul pertanyaan ketika terjadi sebuah bencana yang
melanda umat manusia, yang bahkan menelan korban yang tidak sedikit.
Sebagai contoh bencana yang menimpa saudara-saudara kita di NAD dan
SUMUT dengan begitu dahsyatnya, dan menelan lebih dari seratus ribu
orang. Dari kejadian ini timbul pertanyaan, apakah musibah ini azab dari
Allah, ataukah cobaan?
Sesungguhnya ketika kita
membuka lembaran-lembaran ayat-ayat Al-Qur’an, akan kita jumpai
bagaimana ketika Allah membinasakan suatu kaum. Dan ketika Allah
binasakan mereka, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah
timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun
di sisi lain juga merupakan ujian bagi kaum yang beriman; supaya mereka
lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.
Sebagai contoh, kisah Nabi Nuh as, yang Allah gambarkan dalam QS. Hud/ 11 : 25 – 49.
وَلَقَدْ
أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ {25}
أَن لاَّتَعْبُدُوا إِلاَّاللهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ
أَلِيمٍ {26} فَقَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ
مَانَرَاكَ إِلاَّ بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَانَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ
الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَانَرَى لَكُمْ
عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ {27} قَالَ يَاقَوْمِ
أَرَءَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَءَاتَانِي رَحْمَةً
مِّنْ عِندِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنتُمْ لَهَا
كَارِهُونَ {28} وَيَاقَوْمِ لآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً إِنْ
أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللهِ وَمَآأَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ ءَامَنُوا
إِنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ
{29} وَيَاقَوْمِ مَن يَنصُرُنِي مِنَ اللهِ إِن طَرَدتُّهُمْ أَفَلاَ
تَذَكَّرُونَ {30} وَلآأَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللهِ وَلآأَعْلَمُ
الْغَيْبَ وَلآأَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلآأَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي
أَعْيُنُكُمْ لَن يُؤْتِيَهُمُ اللهُ خَيْرًا اللهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي
أَنفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ {31} قَالُوا يَانُوحُ
قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن
كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ {32} قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُم بِهِ اللهُ إِن
شَآءَ وَمَآأَنتُم بِمُعْجِزِينَ {33} وَلاَيَنفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ
أَرَدْتُ أَنْ أَنصَحَ لَكُمْ إِن كَانَ اللهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ
هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {34} أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ
قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِّمَّا
تُجْرِمُونَ {35} وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ
إِلاَّ مَنْ قَدْ ءَامَنَ فَلاَتَبْتَئِسْ بِمَاكَانُوا يَفْعَلُونَ {36}
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلاَتُخَاطِبْنِي فِي
الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ {37} وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ
وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِن
تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ {38}
فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ
عَذَابٌ مُّقِيمٌ {39} حَتَّى إِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ
قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍ زَوْجِيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ
مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَآءَامَنَ مَعَهُ إِلاَّ
قَلِيلٌ {40}* وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللهِ
مَجْرَاهَاوَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ {41} وَهِيَ
تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحُ ابْنَهُ وَكَانَ
فِي مَعْزَلٍ يَابُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَتَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ
{42} قَالَ سَئَاوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ
لاَعَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ
بَيْنَهُمَا الْمُوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ {43} وَقِيلَ يَاأَرْضُ
ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَاسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ
اْلأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ
الظَّالِمِينَ {44} وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي
مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ
{45} قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ
صَالِحٍ فَلاَتَسْئَلْنِ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن
تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ {46} قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ
أَسْئَلَكَ مَالَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي
أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ {47} قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلاَمٍ مِّنَّا
وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ وَأُمَمٌ
سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ {48} تِلْكَ
مِنْ أَنبَآءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَآ إِلَيْكَ مَاكُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ
وَلاَقَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ
لِلْمُتَّقِينَ {49}
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi
peringatan yang nyata bagi kamu (25), agar kamu tidak menyembah selain
Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang
sangat menyedihkan." (26), Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir
dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang
manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang
mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang
lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu
kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah
orang-orang yang dusta." (27), Berkata Nuh: "Hai kaumku, bagaimana
pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan
diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu.
Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada
menyukainya?" (28), Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta
harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah
dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang
telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan
tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui." (29), Dan (dia
berkata): "Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah
jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?[717]
(30), Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai
gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui
yang ghaib", dan tidak (pula) aku mengatakan: "Bahwa sesungguhnya aku
adalah malaikat", dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang
dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan
mendatangkan kebaikan kepada mereka." Allah lebih mengetahui apa yang
ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar
termasuk orang-orang yang zalim. (31), Mereka berkata "Hai Nuh,
sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah
memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami
azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar." (32), Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab
itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat
melepaskan diri.(33), Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika
aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak
menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan." (34), Malahan kaum Nuh itu berkata: "Dia cuma
membuat-buat nasihatnya saja." Katakanlah: "Jika aku membuat-buat
nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas
diri dari dosa yang kamu perbuat." (35), Dan diwahyukan kepada Nuh,
bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali
orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati
tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (36), Dan buatlah bahtera itu
dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan
dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu
akan ditenggelamkan. (37), Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap
kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya.
Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun)
mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (38), Kelak kamu
akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya
dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (39), Hingga apabila perintah
Kami datang dan dapur[718] telah memancarkan air, Kami berfirman:
"Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang
(jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu
ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan
tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (40), Dan Nuh
berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah
di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (41), Dan bahtera itu berlayar
membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil
anaknya,[719] sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai
anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir." (42), Anaknya menjawab: "Aku akan
mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!"
Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain
Allah (saja) Yang Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi penghalang
antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang
ditenggelamkan. (43), Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai
langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun
diselesaikan[720] dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi[721],
dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ." (44), Dan Nuh
berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku
termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar.
Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." (45), Allah berfirman:
"Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan
akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang
tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu
tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu
supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."
(46), Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau
dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui
(hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan
(tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk
orang-orang yang merugi." (47), Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan
selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas
umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula)
umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia),
kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (48), Itu
adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami
wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak
(pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang
baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (49)
[717].
Kata-kata ini diucapkan oleh Nabi Nuh a.s. sewaktu dia didesak oleh
golongan kafir yang kaya dari kaumnya untuk mengusir golongan yang
beriman, tidak berada, miskin dan papa.
[718]. Yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan.
[719]. Nama anak Nabi Nuh a.s. yang kafir itu Qanaan, sedang putra-putranya yang beriman ialah: Sam, Ham dan Jafits.
[720].
Yakni: Allah telah melaksanakan janjinya dengan membinasakan
orang-orang yang kafir kepada Nabi Nuh a.s. dan menyelamatkan
orang-orang yang beriman.
[721]. Bukit Judi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia
[722].
Menurut pendapat sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan
perbuatannya, ialah permohonan Nabi Nuh a.s. agar anaknya dilepaskan
dari bahaya.
Di sana Allah kisahkan bahwa karena kaumnya
senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah
timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar yang bahkan
Al-Qur’an menggambarkannya gelombang seperti gunung. (QS. 11 : 42).
Pada
saat terjadi banjir besar tersebut, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat
yang jauh terpencil, lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau
mengikuti orang tuanya, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian beliau
berdoa kepada Allah untuk menyelematkan anaknya, karena dia adalah
termasuk ‘keluarganya’. (QS. 11 : 45). Namun kemudian Allah mematahkan
logika manusiawi Nabi Nuh as, dengan mengatakan bahwa anaknya itu bukan
termasuk ‘keluarganya’, karena dia juga tidak mau beriman kepada Allah
swt.
Kejadian ini dilihat dari satu sisi merupakan azab yang
Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh as, karena keingkaran dan kekufuran
mereka. Namun di sisi yang lain juga merupakan ujian dan cobaan
sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman dan mengikuti Nabi Nuh.
Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena
dengan mata kepalanya sendiri beliau menyaksikan dari bahtera yang
dinaikinya, sang anak lenyap di telan ombak besar (QS. 11 : 43). Orang
tua mana yang ‘tega’ menyaksikan anak kandungnya sendiri hilang ditelan
ombak besar, sementara beliau sendiri ‘aman’ berada di atas sebuah
bahtera? Jadi ini adalah cobaan yang begitu berat bagi beliau, sekaligus
peringatan bagi beliau sendiri maupun bagi umatnya.
Sebab Musabab Terjadinya Musibah
Ketika kita berbicara mengenai sebab musabab terjadinya
suatu bencana dan musibah terutama yang digambarkan Al-Qur’an, maka
memang harus diakui bahwa hampir semua ayat-ayat yang berbicara tentang
musibah dan bencana yang menimpa manusia; selalu terkait dengan
kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. Sebagai
contoh, ketika kita membuka buka Al-Qur’an tentang bencana yang terjadi
pada kaum-kaum terdahulu. Semuanya (tanpa terkecuali) bencana yang
menimpa meraka adalah disebabkan karena kekufuran mereka kepada Allah
swt.:
* Kaum nabi Nuh as, Allah tenggelamkan dengan banjir
yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (QS. Hud/
11 : 42). Hingga tak ada makhlukpun yang tersisa melainkan yang berada
di atas kapal bersama beliau. (QS. Asyu’ara’/ 26 : 118).
فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِي مِنَ الْمُؤْمِنِينَ {118}
“maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku."
* Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat.
Sampai-sampai Al-Qur’an menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah
mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya
kota mereka pasca gempa. (QS. Al-A’raf/ 7 : 92)
الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَن لَّمْ يَغْنَوْا فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ {92}
“(yaitu)
orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah
berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah
orang-orang yang merugi.”
* Kaum nabi Luth, Allah
hancurkan mereka denqan hujan batu. Hingga digambarkan Al-Qur’an
bangunan-bangunan tingginya menjadi rata dengan tanah. (QS. Hud/ 11 :
82)
فَلَمَّاجَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ {82}
“Maka
tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di
atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari
tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,”
* Kaum
Tsamud (kaumnya nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa, yang
digambarkan Al-Qur’an mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka
sendiri. (QS. Hud/ 11 : 67)
وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ {67}
“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya”
* Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan
ditenggelamkan ke dalam lautan, hingga tidak satupun yang tersisa dari
mereka. (QS. Al-A’raf/ 7 : 136)
فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِئَايَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ {136}
“Kemudian
Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan
mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang
melalaikan ayat-ayat Kami itu”
* Karun beserta
pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga sedikitpun
tidak tersisa dari kekayaannya, hanya lantaran ia sombong kepada Allah
swt. (QS. Al-Qashash/ 28 :81)
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ
اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللهِ
وَمَاكَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِينَ {81}
“Maka Kami benamkanlah Karun
beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu
golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia
termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”
Adapun
bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penulis
juga melihat bahwa pangkalnya adalah sama ; karena kemaksiatan, kufur,
ingkar dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan
adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (QS.
Arrum/ 30 : 41 – 42).
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {41} قُلْ سِيرُوا فِي اْلأَرْضِ
فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُم
مُّشْرِكُينَ {42}
“Telah nampak kerusakan di darat dan
di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: "Adakan perjalanan di
muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu.
Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan
(Allah)".
Berikut adalah diatara ayat-ayat Al-Qur’an
yang berbicara mengenai bencana atau azab yang tidak terkait secara
langsung dengan kaum terdahulu :
* Gambaran penyebab terjadi
azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal
jika mereka beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik
dari langit maupun dari bumi. (QS. Al-A’raf/ 7 : 96)
وَلَوْ أَنَّ
أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ
مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا
كَانُوا يَكْسِبُونَ {96}
“Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”
* Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia
menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca; syirik), seperti mengatakan
bahwa Allah memiliki anak :
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ
وَلَدًا {88} لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا {89} تَكَادُ السَّمَاوَاتُ
يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ اْلأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا
{90} أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا {91}
“Dan mereka
berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak".
Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat
mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah,
dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah
mempunyai anak.” (QS. Maryam/ 19: 88- 91)
* Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim diantara mereka :
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَتُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {25}
“Dan
peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa
orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal/ 8 : 25)
*
Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu, bisa bersumber
dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Diantaranya
adalah perbuatan zina dan riba. Dalam hadits Rasulullah saw. bersabda :
Dari
Abdullah bin Mas’ud ra dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda,
‘Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba
dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada
mereka.’ (HR. Ahmad)
Sesungguhnya masih
teramat banyak dan luas ayat-ayat maupun hadits Rasulullah saw. mengenai
penyebab terjadinya musibah atau bencana yang menimpa insan. Adapun
ayat-ayat maupun hadits-hadits di atas hanyalah sebagian kecil dari
khazanah yang ada. Namun dari yang sedikit tersebut sudah dapat
memberikan ‘gambaran’ kepada kita bahwa ternyata setiap musibah dan
bencana selalu terkait dengan ‘dosa’ yang dilakukan oleh manusia. Apakah
itu berbentuk perbuatan maksiat, seperti riba dan zina, ataukah
disebabkan karena mendustakan ayat-ayat Allah, menyekutukan Allah dan
mengkufuri nikmat Allah swt.
Pada intinya, setiap
bencana dan musibah dapat menjadi pelajaran buat kita semua, terlepas
apakah itu merupakan azab dari Allah ataukah cobaan untuk meningkatkan
ketakwaan kita. Namun kita harus berfikir keras untuk memperbaiki diri
dan meningkatkan kualitas jiwa dalam penghambaan kepada Allah. Agar
jangan sampai musibah-musibah yang lain, bencana-bencana yang lebih
besar kembali menenggelamkan kita. Karena ternyata setiap musibah dan
bencana terjadi akibat dari jauhnya manusia dari Allah swt. Dan bencana
tersebut bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan pada saat apa saja.
Wallahu A’lam Bis Shawab.