Start By Reading

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam". الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ "Yang menguasai di Hari Pembalasan". إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus", صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".
ALT_IMG

The Time Is Very Important

Kesadaran akan nilai waktu harus selalu diingatkan. Dipelihara dengan rasa syukur yang besar terhadap sang Khaliq penguasa waktu. Nikmati Waktumu yang masih ada, Hargai waktumu yang masih terissa! Readmore...

ALT_IMG

Tolonglah Saya Dengan Do'a Anda

Singkat cerita ia pun melamar Sang Wanita Solehah itu. Subhanallah, kegigihannya selama 4 bulan itu membuahkan hasil. Lamarannya diterima, sebulan lagi mereka melangsungkan akad dan walimah. "Alhamdulillah, ada waktu bagi saya untuk menuntaskan target hafalan 10 juz" Tekadnya Readmore..

Alt img

HARGAI DIRI JANGAN SELALU MENGALAH

Mengalah boleh saja, tetapi pada saat yang tepat dan tempat yang pas.Tak harus mengalah bila prinsip kita benar, karena kebenaran bukan diukur dari banyaknya orang berpendapat, namun kebenaran ditentukan oleh aturan yang ada.Readmore...

ALT_IMG

MALU dan TAKUT itu Dua Sahabat yang Berbeda

MALU dan TAKUT itu adalah dua sahabat seperjuangan. Kedua sahabat tersebut berjuang sekuat-kuatnya agar TUAN-nya terjaga dari segala PENYAKIT HATI yang menyerangnya. Readmore...

ALT_IMG

Separuh Aku Adalah Separuh Kamu dan Separuh Mereka

Mungkin hari INI aku mengalami INI, di SINI dan begINIlah rasanya. Namun, besok yang ku alami ITU, akan kau alami di SANA dan begITUlah rasanyaReadmore...

ALT_IMG

ANAK DALAM HAYALAN TINGKAT TINGGI

Kelak ingin ku didik ia dengan dengan segala kebaikan yang ku miliki. Kemudian ku hiasi tempat tidurnya dengan kerlap kerlip Qiro’ah. Readmore...

ALT_IMG

JANGAN PERNAH MENUNTUT KEMUDAHAN

Mencari kenikmatan dan kebahagiaan hidup bukanlah hal yang sulit. Kenyataan menilai bahwa meraih yang demikian memiliki tingkat kerumitan oleh karena adanya rasa tidak puas, kurang bersyukur dan desakan kebutuhan yang kian kompleks. Readmore...

Tuesday, February 19, 2013

GENGSI dan EGOIS Punya Tujuan Yang Sama

0 comments

GENGSI dan EGOIS adalah dua kata yang berbeda, tapi keduanya memiliki tujuan yang sama. ~

~* ( Yah, Kira-kira Begitulah ) ^_^

Kesempurnaan Allah Azza wa Jalla mengkaruniai sifat egois atau dalam istilah lain Ingin menang sendiri, selalu menjadikan dirinya lebih di atas orang lain, menganggap dirinya tak butuh kritik, lalu sifat-sifat dasar lainnya yang dalam skala besar akan menimbulkan paham primordialisme atau etnosentrisme. Sifat-sifat ini sebenarnya tumbuh dalam setiap manusia, dan mungkin tanpa disadari. Subur oleh rasa benci, gengsi.

Berkembang karena penyemaian yang baik oleh hawa nafsu. Menjadi kuat oleh rasa sombong. Ah apapun penyebabnya, sifat egois ini telah bertransformasi menjadi sebuah kekuatan adigdaya didalam diri manusia.
Dan saya rasa, sifat egois itu telah tumbuh subur didalam diri saya. Berkembang, dan bertransformasi. Sadar ataupun tidak saya sadar.

Apalagi sifat gengsi, itu jauh tumbuh lebih subur.

Saya hanyalah seorang manusia yang tak mengerti apa itu arti ‘manusia’. Memandang rendah orang lain. Saya selalu menganggap diri saya pintar dan mereka semua bodoh. Pada diri sayalah kebenaran sejati, dan mereka hanya puing2 kesalahan yang tak akan pernah saya biarkan mengotori. Saya teringat ketika itu ada seorang teman yang meminta saya untuk mengajarinya sebuah mata pelajaran yang dia tak bisa. Karena statusnya sebagai teman, okelah saya coba penuhhi permintaannya. Tapi ternyata dalam prosesnya dia sangat susah untuk mengerti walaupun telah saya jelaskan berkali-kali. Ketika itu saya berpikir “alangkah bodohnya ni orang, gini aja ga ngerti!”. Akhirnya saking bosannya, saya cari2 alasan dan berhasil pergi meninggalkan dia. Ketika itu saya tidak tau bagaimana perasaannya. Toh bagi saya, dia hanyalah orang bodoh yang tak akan pernah mengerti.

Sebenarnya gambaran sikap dan ketidakwibawaan setiap manusia itu tidak bisa diterka. Terkadang juga ada manusia yang mengatasnamakan kepentingan baru ia melemahlembutkan perangainya. yah, Apalah itu...!!!! Terlalu jauh malah akan mengusik Husnudzhan dalam diri dan berganti ke Su'udzhon yg tidak terkendali.
Gengsi dan Egois, hanya akan membawa kehancuran bagi si pemegang watak dan tabiat macam itu dalam kehidupannya sehari-hari.

Semoga Bermanfaat
Continue reading →

MALU dan TAKUT itu Dua Sahabat Seperjuangan

0 comments

Untuk kedua kalinya ta angkat topik, tentang Malu dan Takut. Motivasinya cuma satu, yakni untuk mengingatkan dan menyemangati diri pribadi terutama dan pembaca bagi yang mengerti dan menyadari serta merenungi akan urgennya kedua kata ini.

MALU dan TAKUT itu adalah dua sahabat seperjuangan. Kedua sahabat tersebut berjuang sekuat-kuatnya agar TUAN-nya terjaga dari segala PENYAKIT HATI yang menyerangnya.

~*( Jagalah mereka, maka mereka akan menjagamu )* ^_^

AMRU BIN UTBAH merupakan seorang tabi’in yang dikenal dengan kekhusyukan dalam shalat. Suatu saat beliau bersama beberapa sahabatnya mengikuti sebuah peperangan. Dan saat itu budak beliau mendapati bahwa Amru bin Utbah tidak ada pada tempatnya, hingga ia mencarinya.

Tak lama kemudian, sang budak menemukan bahwa majikannya sedang melaksanakan shalat di gunung sedangkan awan menaunginya. Dan suatu malam sang budak mendengar suara auman singa, sehingga siapa saja yang ada di tempat itu berlarian, hanya tinggal Amru bin Utbah yang sedang shalat.

Setelah peristiwa itu, sang budak dan lainnya pun bertanya kepada Amru bin Utbah, ”Apakah Anda tidak takut singa?” Maka Amru pun menjawab, ”Sesungguhnya aku benar-benar malu kepada Allah, jika aku sampai takut kepada selain Dia”. (Shifat Ash Shafwah, 3/70)

Jangan pernah takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya, hatta rasa malumu pada sesama manusia menyebabkan engkau lemah dan akhirnya takut kepadanya.

Wallahu a'lam bishawwab
Continue reading →
Sunday, February 17, 2013

Kebahagiaan Adalah Anugrah

0 comments
Penyusun: Ummu Salamah
Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Ilahi, bukan merupakan sebuah hasil usaha semata. Seperti masuknya hamba-hamba yang sholeh kedalam syurga bukan dikarenakan amalan mereka semata yang -sebut saja tidak terhitung jumlahnya menurut ukuran manusia- melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam sudut pandang ikhtiar atau usaha, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa manusia diberikan kebebasan memilih, jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Tapi tetap seluruh usaha manusia -mau tidak mau- terikat dalam sebuah ketetapan pasti yaitu takdir Alloh.

Takdir adalah hak mutlak milik Allah. Manusia hanya memiliki hak menebar usaha, melakukan amalan, berikhtiar dan bekerja. Kita harus mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita harus tetap berusaha, niscaya Allah akan memberikan kemudahan.

Ada dua kata kunci disini: takdir dan usaha. Keduanya tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya, bisa menjadi pemicu terwujudnya gelombang kebahagiaan.

Pertama, takdir. Dengan meyakini takdir, seorang muslimah akan memiliki ketabahan, terutama di saat harus menerima dera musibah secara bertubi-tubi atau di saat menghadapi ancaman terhadap ketentraman hidupnya.

Allah berfirman,
مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلاَ فِيَ أَنفُسِكُمْ إِلاّ فِي كِتَابٍ مّن قَبْلِ أَن نّبْرَأَهَآ إِنّ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرٌ
“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

Ketabahan itulah, yang akan menjadi pemicu kebahagiaan. Karena ketabahan itu muncul melalui proses keimanan yang bertarung melawan bujuk rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk kemudian keluar sebagai pemenang, mendulang karunia petunjuk Allah.

Allah berfirman,
مَآ أَصَابَ مِن مّصِيبَةٍ إِلاّ بِإِذْنِ اللّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللّهُ بِكُلّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…” (Ath Thaghabun: 11)

Hati yang mendapatkan petunjuk, niscaya memancarkan cahaya pasrah, menyingkirkan nafsu amarah, menepis rasa kesal dan kecewa sehingga lahirlah kebahagiaan itu.

Di sisi lain, keyakinan kepada takdir, menyeruakkan nuansa kesegaran berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala, bagi orang-orang yang tabah dan sabar.

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُواْ جَنّةً وَحَرِيراً
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ketabahan mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera…” (Al Insan: 12)

Kedua, adalah usaha yaitu usaha yang baik atau amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin, memiliki nilai sakral. Berkaitan dengan kandungan ruh keikhlasan dan kekuatan dan kekuatan peneladanan terhadap manusia terbaik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang terdapat di dalamnya. Dua kandungan itu, bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin berpengaruh impresif, menekan jauh ke lubuk jiwa, melakukan kepuasan yang tiada tara. Tidak peduli, apakah usaha itu -pada akhirnya- menampakkan hasil, atau terjatuh pada lubang-lubang kegagalan. Dalam konteks ini, usaha apa pun yang dilakukan oleh seorang muslim tak lepas dari bingkai ibadah, atau penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha yang dilakukan, semakin meningkat kualitas kehambaannya.

Sebagai contohnya, ibadah sholat diyakini mampu menjadi media penyejuk hati, bila dilakukan dengan khusu‘ dan dibarengi dengan kesabaran jiwa…
يَآأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصّبْرِ وَالصّلاَةِ إِنّ اللّهَ مَعَ الصّابِرِينَِ
“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Baqoroh: 153)

Dari pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan sebuah fenomena yang cukup menarik. Kebahagiaan itu lebih sering muncul, setiap kali seorang muslim selesai melakukan pekerjaannya. Disebut dengan kata lebih sering muncul, karena selesai atau tidak suatu pekerjaan, berhasil atau tidak suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal didapat oleh seorang muslim. Di saat gagal berusaha, seorang mukmin tetaplah berbahagia, karena pengaruh mutiara ketabahan yang tertanam kuat dalam jiwanya. Di saat berhasil, ia akan memperoleh kebahagiaan lebih, karena rasa syukurnya. Itulah keajaiban seorang mukmin!

“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatak kesenanagan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)

Sekali lagi, kebahagiaan itu lebih mudah dirasakan oleh seorang muslim ketika usaii menyelesaikan pekerjaannya. Adapun rasa syukur yang ia ungkapkan, menjadikannya nilaii lebih. Meskipun secara umum, rasa syukur itu lebih mudah dilakukan, daripada ketabahan dii saat terjadi musibah. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya, ketabahan yang sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shohihnya I: 430)

Rasa syukur akan memberikan nilai lebih, terhadap penyegaran hati dan penentraman jiwa. Dari situlah, sebuah karunia akan semakin terasa kenikmatannya.

Sebagaimana realitas kehidupan, kebahagiaan biasa hadir di saat seorang hamba mengakhiri ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa nikmatnya.
“Orang yang melaksanakan ibadah puasa, memiliki dua kebahagiaan, yang pasti akan dirasakannya: Saat berbuka, ia berbahagia karena selesai berpuasa. Saat berjumpa dengan Allah, ia berbahagia, karena ibadah puasanya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukari II: 673, oleh Muslim II: 807 dan At Tirmidzy III: 137)

Kebahagiaan yang didapatkan oleh seorang muslim lebih bersifat nyata dan pasti, karena merupakan dua senyawa yang terkait antara satu dengan lain. Yaitu takdir Allah dan usaha manusia dengan cara yang benar dan ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak beriman, kebahagiaan hanyalah merupakan ‘letupan’ sesaat, tatkala menemukan hal-hal yang disukainya, atau terlepas dari beban yang menghimpitnya. Nilainya pun hanyalah sesaat, karena tidak memiliki ruh keikhlasan dan kekuatan.

Kebahagiaan tetaplah rahasia Ilahi, meskipun ‘sejuta manusia’ menggapai langit dan menggali bumi, demi kebahagiaan sejati.
Keyakinan terhadap takdir, menjunjung manusia ke arah ketabahan, kepasrahan dan keteduhan hati.
Keihlasan, bak mutiara terpendam, menyorotkan cahaya pasrah, menyambut keridhoan ilahi.
Peneladanan terhadapmu, wahai Nabiku, seringkali menggeser segala kesukaan kami terhadap segenap penghuni bumi. Itulah sebabnya, kehambaan kami bertahan hingga kini.
Saudari muslimah, berbahagialah dengan takdirmu, niscaya keabadian menghampirimu dengan segala keindahannya.
Saudari muslimah, berbahagialah dengan keislamanmu, niscaya surga dunia, juga surga akherat, berkenan menyambutmu…

Maroji’: Aku Wanita paling Bahagia (Abu Umar Basyier)
***
Artikel www.muslimah.or.id
Continue reading →

Tentukanlah, dengan siapa kau merasa BAHAGIA

0 comments

BAHAGIA bukan datang dari Orang Tua, bukan dari Orang Lain, tetapi dari Diri yang Menjalani. yang merusak ke BAHAGIA an bukan oleh Orang Tua, bukan oleh Orang Lain, tetapi oleh DIRI yang menjalani.

--> Tentukanlah, dengan siapa kau merasa BAHAGIA
Tentu saja kita tidak lupa Kisah klasik Siti Nurbaya yang sampai hari ini masih menginspirasi sekian banyak orang yang mana kehidupan asmaranya dicampuri oleh orang tua. Dalam hal ini, orang tualah yang menentukan siapa calon suami/istri yang membahagiakan baginya.

Tulisan kali ini mengangkat topik tentang intervensi orang tua terhadap jodoh yang mengarah kepada harapan akan sebuah kebahagiaan.

Sebenarnya, Semua telah diciptakan dengan berpasang-pasangan, baik hal terkecil pun sampai terbesar semuanya sudah mempunyai pasangannya sendiri, dan pasangan yang sudah ditentukan tak dapat lagi dipisahkan. Begitu juga manusia, manusia pun juga sudah ditentukan pasangannya siapa, jodohnya siapa, pendamping hidupnya siapa, dan sebagainya.

Benar sekali jodoh itu sudah ada yang menentukan, tetapi tidak dengan tinggal diam saja dan menunggu, tetapi harus disertai dengan sebuah ikhtiar dan do'a, hal ini dilakukan agar jodoh yang sudah ditentukan benar-benar yang terbaik bagi kita.

Namun bagaimana kita mengungkap sebuah makna "Ketika Jodoh Di Tangan Orang Tua." Sungguh hal menarik bukan? Sudah tak perlu kaget jika sekarang makin marak orang tua yang menjodohkan anaknya dengan pilihannya. Mungkin bagi orang tua ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, orang tua sebenarnya bagus untuk menentukan jodoh anaknya atas pilihannya.

Tetapi ada beberapa hal alasan orang tua menjodohkan anaknya dengan pilihannya:

a. Tidak Ingin Anaknya Sengsara

Orang tua yang beralasan seperti ini biasanya terjadi karena calon pendamping hidup yang dipilih anaknya sendiri tidak memenuhi kriteria, misalkan saja (maaf) penuh keterbatasan. Keterbatasannya baik secara materi ataupun disabilitas. Nah, anaknya yang cantik dan mungkin saja tingkatannya lebih tinggi membuat pandangan orang tua berbeda, disini akan terlahir sebuah pandangan bahwa kebahagiaan itu tidak akan terjadi jika dua orang berlawan jenis berbeda tingkat annya.

b. Orang Tua Malu

Malu dong jika pilihan anaknya jauh banget dari kriteria, kita kan orang besar, malu sama tetangga, sama rekan masak calonnya seperti ini, sudah terlihat masa depan suram. hehehe. Ya paling tidak sepadan lah, jangan yang seperti ini. Bla...bla..bla...

c. Alasan lain

Dan alasan lainnya adalah bahwa orang tua menjodohkan anaknya dilihat dahulu dari keturunan siapa, pekerjaan nya apa, dan lain-lainnya. Sudah pasti orang tua yang menjodohkan anaknya punya beberapa alasan lainnya yang lebih penting lagi. Misalkan saja berhati-hati sebelum terlanjur menyesal, melihat bahwa calonnya anak pen*ahat, anak peng**is, dan tidak rajin beribadah dan lain-lainnya, untuk lebih memastikan bahwa anaknya nanti bisa hidup bahagia.

Sebenarnya hal yang wajar jika orang tua menginginkan anaknya bahagia, disini ada dua pertanyaan yang mungkin bisa dijawab oleh orang tua? Apakah menjodohkan anaknya dengan calon pilihannya itu benar-benar ingin membahagiakan anaknya ataukah ingin membahagiakan dirinya sendiri? Penulis yain 1000% orang tua akan bahagia jika anak menuruti pilihan orang tuanya, tetapi ada satu pertanyaan yang lebih penting lagi, apakah orang tua yakin? bahwa anak yang dijodohkan bukan pilihannya membuat dia bahagia? Ehemm, sudah dipastikan dihati terdalam anak ada sebuah keterpaksaan, sebuah tekanan, dan semua itu demi kebahagiaan orang tuanya.

Jika sang anak memilih jodohnya sendiri dan itu tidak cocok bagi orang tuanya, pasti orang tuanya akan sedih. Begitu juga sebaliknya, jika orang tuanya memilihkan jodoh untuk anaknya dan tidak cocok bagi anaknya, maka anaknya pun sedih.

Sebenarnya dalam hal memilih pasangan hidup, tanda ia jodoh adalah adanya kecocokan dan saling keterikatan, tidak masalah perbedaannya dari segi apa, perbedaan bukan lah yang menentukan kebahagiaan, nabi muhammad saw adalah anak yatim piatu dan miskin tetapi mendapatkan jodoh yang kaya raya, tetapi beliau dengan istrinya sangat bahagia sekali.

Jadi, hak memilih pasangan hidup adalah anaknya dan hak orang tua hanya memberikan pesan, pendapat, dan dukungan bukan dengan memaksa anaknya. Dan satu hal lagi, yang menentukan kebahgiaan adalah restu dari orang tua, jikalau memang pilihan anaknya tidak cocok, hal yang pantas dilakukan oleh orang tua adalah selalu berdoa dan meluaskan restu untuk anak dan menantunya, pasti dengan itu akan sama-sama bahagia nantinya. Dan anak pun juga demikian, hendaklah memilih pasangan yang benar-benar pasangan itu bisa diajak berubah menjadi baik dan memiliki sopan santun dan etika.

Semoga Bermanfaat
Continue reading →
Friday, February 15, 2013

Potret Kehidupan Muslim di Georgia

0 comments
Islam  di Georgia terbilang memiliki pengaruh yang besar. Di  negara itu terdapat sedikitnya tujuh Madrasah (sekolah agama Islam) di Georgia.  Umat Islam di Georgia ada yang beraliran Suni dan ada pula yang Syiah. Kedua penganut aliran dalam Islam itu hidup saling berdampingan.

Islamofobia masih menjadi fenomena yang mengkhawatirkan di Georgia. Banyak orang Georgia  yang khawatir terhadap ideologi Islam dan pengaruh luar yang dapat menyebabkan kekerasan internal. Keberadaan  Muslim Chechec Kists kerap kali menjadi suatu sumber ketegangan politik antara Georgia dan Rusia.

Untunglah Georgia di bawah kepemimpinan Mikheil Saakashvili mulai memperhatikan aspirasi umat Islam. Baru-baru ini,  Saakashvili menyerukan agar izin pembangunan masjid di Georgia tak boleh lagi dipersulit. Sebelumnya, umat Islam sangat sulit untuk membangun masjid, karena proses perizinannya begitu sulit. 

‘’Dengan menolak untuk membangun mesjid di Georgia, sama artinya bagi kita menolak hak ratusan ribu Muslim yang tinggal di wilayah ini  untuk menjadi warga negara Georgia,’’  kata Presiden Georgia, , melalui  saluran televisi PIK.

Menurut Saakashvili, mendirikan masjid bukanlah masalah agama, tapi hak seluruh penduduk Georgia untuk beribadah. ‘’Mereka tidak dapat ditolak haknya untuk mempraktikkan tradisi agama mereka,’’ ungkap sang Presiden. Kebijakan Saakashvili itu banyak ditentang masyarakat non-Muslim.

‘’Sangat mudah untuk membuang slogan populis, tapi kita harus memiliki sikap tanggung jawab terhadap sesama warga negara kita terlepas dari identitas agama dan asal usulnya,’’ paparnya.  Pemerintah Georgia pun menandatangani kesepakatan dengan Turki.

Kesepakatan itu berupa mempermudah perizinan pembangunan masjid di Georgia dan perbaikan gereja di Turki.  Kebijakan Presiden Mikheil Saakashvili itu tentu menjadi angin segar bagi umat Islam Georgia di tengah merebaknya Islamofobia di negara itu.

Sebagai minoritas, sungguh tak mudah bagi Muslim Georgia untuk menjalani kehidupan beragama. Bahkan, menurut laman Caucaz, umat Islam cenderung untuk sulit diakui dalam ideology nasional baru Georgia. Terlebih, rezim Saakashvili lebih cenderung menerapkan nilai-nilai Kristen.

Sebagai salah satu bukti, Rezim Saakashvili menggunakan bendera baru sebagai symbol negara itu. Lambang Raja David yang dipakai pada bendera negara itu menunjukkan bahwa Georgia berupaya untuk membangunkan kembali negara Kristen.

Komunitas Muslim

Kekuatan umat Islam di Georgia terdapat pada etnis Ajarian  dan Azeris. Selain itu ada pula komunitas Muslim lainnya yang lebih kecil, yakni Abkhaz. Orang-orang etnis Abkhaz  dikenal dengan sebutan Abkhazian. Mereka tinggal dan menetap di wilayah Abkhazia dan kota-kora lainnya di Georgia.

Etnis kecil lainnya  yang memeluk Islam adalah Kistin. Mereka menetap di lembah Pankisi – tepatnya di Timur Laut Georgia. Jumlah komunitas Muslim dari etnis itu mencapai 12 ribu jiwa. Mereka merupakan pengikut Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah.

Source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/02/11/mi18bz-potret-kehidupan-muslim-di-georgia
Continue reading →

Astaghfirullah, Politikus Ini Sebut Islam 'Agama Zaman Batu'

0 comments
Seorang politikus Selandia Baru, Richard Prosser, menyebut Islam sebagai "agama orang zaman batu" dan kaum muda Muslim adalah teroris dan ancaman yang harus dilarang untuk menaiki pesawat.

Perdana Menteri Selandia Baru John Key pada Selasa mengutuk Prosser dengan mengatakan bahwa ucapan tersebut "menjijikkan."

Richard Prosser, merupakan anggota partai "New Zealand First". Ia juga menuding sebagian besar teroris adalah "kelompok muda Muslim yang marah dan membenci negara-negara Barat."

"Jika Anda adalah laki-laki muda, berusia antara 19 sampai 35 tahun, seorang Muslim, atau terlihat seperti seorang Muslim, atau berasal dari negara Muslim, maka Anda tidak akan diizinkan untuk bepergian dengan menggunakan pesawat penerbangan negara-negara Barat," tulis dia.

"Saya tidak akan membiarkan hak-hak dan kebebasan anak gadis saya, dan juga semua warga negara Selandia Baru serta negara Barat lainnya, direndahkan oleh para pembenci wanita yang hidup di zaman batu dari 'Wogistan'," kata dia.

Perdana Menteri Key mengatakan bahwa komentar Prosser sangat "menjijikkan". Sementara itu pemimpin partai New Zealand First yang berhaluan kanan, Winston Peters, menolak pendapat Prosser karena terlalu ekstrem dan tidak berimbang.

"Komentar Prosser adalah pandangan seorang ekstremis mengenai masalah yang ekstrem, namun Anda tidak dapat memasukkan semua orang ke dalam kapal yang sama," kata dia.

"Yang hilang dalam komentar Prosser adalah perkataan semacam, 'Saya tidak berbicara dalam konteks sebuah kelompok manusia, yaitu mayoritas pemeluk Islam yang cinta damai dan patuh pada hukum'," kata Peters.

Peters tidak mengungkapkan lebih lanjut apakah Prosser akan menghadapi hukuman dari partai.

Sementara itu, Key mengatakan bahwa Prosser, yang sebelumnya juga pernah mendesak agar jilbab dilarang, telah dengan sengaja menyinggung umat Muslim dalam tulisan di majalah konservatif "Investigate".

"Tulisan itu sangat bodoh dan seharusnya dia memikirkan pendapatnya dengan matang. Tulisan itu dengan jelas mencerminkan sikap partai New Zealand First terhadap warga Selandia Baru lain," kata dia kepada wartawan.

Mantan politikus dari Labour Party, Kelvin Davis, merespons tulisan Prosser dengan memparafrase kutipan dari Mark Twain.
Dia menulis di Twitter, "Lebih baik tetap diam dan membiarkan semua orang berpikir kalau Anda adalah seorang idiot, daripada membuka mulut dan mengonfirmasi pendapat tersebut."

Share/Post : http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/02/13/mi3wf8-astaghfirullah-politikus-ini-sebut-islam-agama-zaman-batu

Redaktur : Heri Ruslan
Sumber : antara
Continue reading →

CAGUB KOK POLIGAMI?

0 comments


Oleh : Paox Iben Mudhaffar

Memprihatinkan. Hanya kata itu yang sanggup saya ucapkan ketika sebagian besar calon gubernur NTB, termasuk incumbent--disinyalir melakukan praktik Poligami. Bahkan salah seorang calon disinyalir memiliki istri lebih dari dua. Jikapun ada calon yang tidak berpoligami, namun diinternl partai pengusungnya, para kader partai ini –sebagaimana dikemukakan sang pendiri diberbagai media--sering diasumsikan sebagai orang-orang yang pro-poligami. Memang ada yang salah dengan Poligami?

Dalam sejarah Islam maupun kajian fikih klasik, poligami memang memiliki legitimasi yang cukup kuat. Meminjam istilah Derrida, hal itu seakan telah menjadi logosentrisme: kebenaran yg terang-benderang dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Sebab selain mendapat legitimasi tekstual (nash) juga mendapat dukungan secara kultural dan terus direproduksi dalam praktik atau wacana sosial. Tapi jelas pula, dalam kehidupan modern, praktek poligami amat problematik. Apalagi jika itu menyangkut pejabat publik semisal calon Bupati atau Gubernur ini. Kita tidak bisa menutup mata jika persoalan istri para pejabat adalah semata persoalan privat, individual, yang tidak boleh diketahui oleh publik. Sebab ketika seorang (laki-laki) menjadi pejabat biasanya secara otomatis, istrinya juga menduduki posisi strategis dalam lembaga-lembaga publik semisal organisasi Dharma Wanita, Tim Penggerak PKK dst. Organisasi tersebut juga di support oleh dana pemerintah yang nota bene adalah uang publik. So, bukankah persoalan ini layak menjadi perbincangan publik? Apalagi seorang Istri pejabat sekelas gubernur! Biasanya istri pejabat itu juga terlibat aktif dalam kampanye program-program pemerintah ketika suaminya menjabat. Lihat saja foto-foto mereka di sepanjang jalan atau di depan kantor-kantor pemerintahan.

Kemandulan Teologis

Dalam konteks Fiqiyyah maupun diskursus tafsir keagamaan kontemporer, mempraktekkan poligami dalam masyarakat modern sekarang ini bisa dibaca sebagai bukti kemandulan teologis. Dari sisi historis, konteks pembolehan poligami dalam Islam pada mulanya bertujuan justru untuk membatasi, bukan menambah jumlah istri. Sebab, dalam masyarakat Arab ketika itu, perempuan ibarat "obyek" yang boleh diapasajakan oleh laki-laki. Maka banyak orang, termasuk Umar ibn al-Khatab, sebelum menjadi muslim, tega mengubur bayinya yang terlahir perempuan. Di masa Arab jahiliyah, orang bisa beristri berapa saja, siapa saja. Asalkan mampu, asalkan bisa.

Kemudian Islam datang dengan menawarkan sebuah aturan "jika terpaksa, maksimal empat". Mengapa empat? Kajian Leonard Swidlerdalam Women in Judaism: The Status of Women in Formative Judaism (1976: 144-8) cukup menarik disimak. Sebagaimana bisa diduga, poligami adalah praktek budaya yang dulunya juga lumrah di kalangan kaum Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, rupanya pembolehan poligami juga dibatasi sampai maksimal empat. Agaknya, poligami sebagai model hubungan lelaki-perempuan yang turun-temurun diwarisi dari tradisi Yahudi itu di zaman Muhammad SAW telah berkembang demikian tak terkendali di tanah Arab. Sehingga Al-Quran kemudian mengembalikan tradisi itu kepada batas toleransi "maksimal empat" tersebut.

Terlepas benar-tidaknya hal di atas, menurut hemat saya, pada dasarnya monogami adalah bentuk hubungan sah lelaki-perempuan paling ideal dalam Islam. Sebab kata kuncinya adalah “ADIL” . Jika kita baca kembali terutama QS 4: 3-4, dan ditegaskan lagi dalam (QS 4: 129), adil itu hampir mustahil bisa dicapai seorang suami beristri lebih dari satu. Artinya, dengan pesan universal yang bisa diterima pemahaman manusia dari berbagai latar budaya dan sejarah, dengan ketentuan "maksimal empat" itu, Al-Quran sebenarnya sedang meletakkan fondasi penting buat kesederajatan lelaki-perempuan. Dengan "adil" sebagai hakikat pesannya, soal wujud hubungan legal itu selanjutnya diserahkan kepada kematangan umat Islam dalam mempraktekkannya. Tapi arahnya jelas, dari satu laki-laki dengan jumlah istri tak terbatas, menjadi maksimal empat istri, menuju monogami sebagai bentuk ideal.

Karena watak patriarkis yang mengidap ketidakadilan itu, jangan lupa, dari sisi hukum, poligami juga selalu menjadi perdebatan aktual. Ingat, betapa tidak berkenannya Rasulullah saat Ali r.a., sang menantu, menunjukkan isyarat hendak memadu Fatimah, putri kesayangannya. Sembari berdiri di atas mimbar, Rasulullah berkata, "Aku tidak akan kasih izin, kecuali Ali ibn Abi Talib terlebih dulu menceraikan anak perempuanku jika ia mau mengawini anak-anak gadis mereka. Sebab, Fatimah adalah bagian dari tubuhku, aku membenci apa yang dia benci untuk dilihat, dan apa yang melukainya juga melukaiku" (Sahih Bukhari, Vol. 7, Kitab 62, No. 157).

Sekali lagi, jika diskusi seputar isu poligami ini ditambatkan hanya pada soal hukum, kita tidak akan sampai ke mana-mana. Lebih-lebih menempatkannya semata sebagai urusan pribadi. Ini adalah persoalan sosial, perkara relasi kuasa yang timpang, masalah ketidakadilan atas kaum perempuan. Jelas pula, status poligami mendesak untuk direvisi kedudukannya dalam hukum Islam yang kita anut. Menggugat poligami dalam konteks masyarakat kita bukanlah menentang ayat Tuhan, melainkan justru menerjemahkan pesan esensial dari agama Islam: tentang keadilan. Dan perempuan, sebagai kaum yang dilemahkan sekian lama, menurut Chandra Mohanty dalam Feminism without Borders (2003: 236) memiliki "potential epistemic privilege" guna mewujudkan sistem sosial yang adil bagi semua pihak.

Mengekalkan Penindasan

Sebagai pemimpin yang dijadikan panutan banyak orang, mempraktekkan tindakan yang dari banyak segi jelas problematik amatlah tidak mendidik. Demikian juga yang terjadi dibumi Nusa Tenggara Barat ini. Ketika seorang pemimpin atau calon pemimpin mempraktikkan poligami, maka ia telah “menyakiti” sebagian besar ranah publiknya sendiri dengan menimbulkan huru-hara pewacanaan yang kontra produktif terhadap arah pembangunan dan cita-cita kepemimpinannya.

Ketika masyarakat, mendengar rumor Gubernurnya yang masih muda, Tuan Guru dan “ganteng” itu kawin lagi misalnya, publik pun—terutama ibu-ibu diperkampungan-- berekasi cukup keras. Apa pasal? Sebab ia bukan sekedar sosok idola sebagaimana para artis. Ia adalah sosok panutan; Muda, cerdas, berkuasa, dan layak menjadi panutan karena predikatnya sebagai Tuan Guru. padahal itu baru rumor(yang bersangkutan sllu menolak berkomentar soal itu). Publik pada umumnya sangat menaruh harapan jika Gubernur NTB TGH M. Zainul Majdi baik secara pribadi maupun sebagai tuan guru adalah sosok yang moderat dan terbuka, karena itu ia akan memberi suri tauladan yang baik serta “melindungi” hati para pengikutnya, terutama para ibu-ibu dan perempuan pada umumnya dengan memberantas budaya kurang baik.

Dengan melakukan Poligami, itu sama saja memberi anjuran dan memberi legitimasi kepada setiap lelaki di Nusa Tenggara Barat ini untuk melakukan praktik yang sama. Hal tersebut juga sangat kontra produktif misalnya dengan kampanye keluarga sehat, sejahtera, yang selama ini digembar-gemborkan pemerintahan yang dipimpinnya. Bukankah keluarga itu merupakan pilar utama pembangunan?

Dengan melakukan praktik poligami, sesungguhnya dia telah terjerat dalam permainan kekuasaan patriarkhis dan mengekalkan struktur penindasan terhadap kaum perempuan secara nyata.

Memang belum ada penelitian yang secara rigid menyebutkan, berapa jumlah poligami yang dilakukan di NTB ini, berapa istri-istri berikut anak-anak yang terlantar akibat praktik “semena-mena” itu. Berapa kasus KDRT yang terjadi dalam rumahtangga yang melakukan praktik Poligami? Apa efek sosial dan budaya dari hal ini. Semua itu memang belum muncul kepermukaan, tetapi publik, terutama ibu-ibu dan kaum perempuan-- tidaklah buta.

Jika kita menerima bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan, baik secara sosiologis maupun teologis, memang sederajat, mari kita bersepakat pula bahwa poligami bukanlah persoalan pribadi. Sebagai praktek sosial, ia adalah lembaga patriarkal yang memberikan privilese kuasa bagi laki-laki sembari menempatkan perempuan sebagai pecundang. Jangan lupa, jika ditelusuri, nalar ini tidak berhenti di sini. Ketika asumsi "lelaki superior, perempuan inferior" telah diterima sebagai common sense, siapa saja yang"dilelakikan" dengan sendirinya memiliki privilese atas kuasa dan kebenaran. Sementara itu, siapa saja yang "diperempuankan" harus tunduk sebagai kaum lemah yang sewaktu-waktu siap sedia menjadi korban, menjadi tumbal.

Karena itu, sesuai dengan capaian kematangan kita dalam pemahaman atas keadilan, termasuk kesederajatan laki-laki dan perempuan, secara sosiologis poligami tidak bisa dibenarkan. Dalam hal ini, isyarat positif pemerintah untuk segera memperluas cakupan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil perlu mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Penutup

Mencermati perkembangan perpolitikan di NTB, terutama diseputar pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Barat ini, saya jadi sangsi, adakah calon Gubernur yang berpihak pada nasib kaum perempuan? Padahal merekalah jumlah penduduk terbesar, sekaligus pemilih terbesar dan potensial yang diperebutkan oleh para kandidat. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Wacana peningkatan kualitas IPM yang menjadi agenda utama para kandidat, termasuk pengentasan gizi buruk dll tentu akan mengalami hambatan yang signifikan. Apa pasal? Sebab kekerasan struktural yang berbasis pada pembiakan budaya patriarkhal ini akan terus berlangsung dan itu, tentu saja akan mengesampingkan program keluarga harapan seperti digembar-gemborkan pemerintah melalui program PKH yang sudah berlangsung.

Saya juga tidak tahu bagaimana kesan dan tanggapan para aktivis perempuan pada umumnya dengan fenomena ini. Namun dari beberapa komentar di facebook, saya cukup kaget juga sebab nampaknya sebagain mereka—terutama yang berafiliasi dengan parpol pendukung kandidat calon gubernur justru bersikap kooperatif dengan mendomestifikasi persoalan poligami ini sebagai ranah personal. Wallahu’alam bi  al shawwab

Mataram, 13 Feb 2013
Continue reading →