Start By Reading

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam". الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ "Yang menguasai di Hari Pembalasan". إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus", صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".
ALT_IMG

The Time Is Very Important

Kesadaran akan nilai waktu harus selalu diingatkan. Dipelihara dengan rasa syukur yang besar terhadap sang Khaliq penguasa waktu. Nikmati Waktumu yang masih ada, Hargai waktumu yang masih terissa! Readmore...

ALT_IMG

Tolonglah Saya Dengan Do'a Anda

Singkat cerita ia pun melamar Sang Wanita Solehah itu. Subhanallah, kegigihannya selama 4 bulan itu membuahkan hasil. Lamarannya diterima, sebulan lagi mereka melangsungkan akad dan walimah. "Alhamdulillah, ada waktu bagi saya untuk menuntaskan target hafalan 10 juz" Tekadnya Readmore..

Alt img

HARGAI DIRI JANGAN SELALU MENGALAH

Mengalah boleh saja, tetapi pada saat yang tepat dan tempat yang pas.Tak harus mengalah bila prinsip kita benar, karena kebenaran bukan diukur dari banyaknya orang berpendapat, namun kebenaran ditentukan oleh aturan yang ada.Readmore...

ALT_IMG

MALU dan TAKUT itu Dua Sahabat yang Berbeda

MALU dan TAKUT itu adalah dua sahabat seperjuangan. Kedua sahabat tersebut berjuang sekuat-kuatnya agar TUAN-nya terjaga dari segala PENYAKIT HATI yang menyerangnya. Readmore...

ALT_IMG

Separuh Aku Adalah Separuh Kamu dan Separuh Mereka

Mungkin hari INI aku mengalami INI, di SINI dan begINIlah rasanya. Namun, besok yang ku alami ITU, akan kau alami di SANA dan begITUlah rasanyaReadmore...

ALT_IMG

ANAK DALAM HAYALAN TINGKAT TINGGI

Kelak ingin ku didik ia dengan dengan segala kebaikan yang ku miliki. Kemudian ku hiasi tempat tidurnya dengan kerlap kerlip Qiro’ah. Readmore...

ALT_IMG

JANGAN PERNAH MENUNTUT KEMUDAHAN

Mencari kenikmatan dan kebahagiaan hidup bukanlah hal yang sulit. Kenyataan menilai bahwa meraih yang demikian memiliki tingkat kerumitan oleh karena adanya rasa tidak puas, kurang bersyukur dan desakan kebutuhan yang kian kompleks. Readmore...

Friday, February 15, 2013

CAGUB KOK POLIGAMI?

0 comments


Oleh : Paox Iben Mudhaffar

Memprihatinkan. Hanya kata itu yang sanggup saya ucapkan ketika sebagian besar calon gubernur NTB, termasuk incumbent--disinyalir melakukan praktik Poligami. Bahkan salah seorang calon disinyalir memiliki istri lebih dari dua. Jikapun ada calon yang tidak berpoligami, namun diinternl partai pengusungnya, para kader partai ini –sebagaimana dikemukakan sang pendiri diberbagai media--sering diasumsikan sebagai orang-orang yang pro-poligami. Memang ada yang salah dengan Poligami?

Dalam sejarah Islam maupun kajian fikih klasik, poligami memang memiliki legitimasi yang cukup kuat. Meminjam istilah Derrida, hal itu seakan telah menjadi logosentrisme: kebenaran yg terang-benderang dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Sebab selain mendapat legitimasi tekstual (nash) juga mendapat dukungan secara kultural dan terus direproduksi dalam praktik atau wacana sosial. Tapi jelas pula, dalam kehidupan modern, praktek poligami amat problematik. Apalagi jika itu menyangkut pejabat publik semisal calon Bupati atau Gubernur ini. Kita tidak bisa menutup mata jika persoalan istri para pejabat adalah semata persoalan privat, individual, yang tidak boleh diketahui oleh publik. Sebab ketika seorang (laki-laki) menjadi pejabat biasanya secara otomatis, istrinya juga menduduki posisi strategis dalam lembaga-lembaga publik semisal organisasi Dharma Wanita, Tim Penggerak PKK dst. Organisasi tersebut juga di support oleh dana pemerintah yang nota bene adalah uang publik. So, bukankah persoalan ini layak menjadi perbincangan publik? Apalagi seorang Istri pejabat sekelas gubernur! Biasanya istri pejabat itu juga terlibat aktif dalam kampanye program-program pemerintah ketika suaminya menjabat. Lihat saja foto-foto mereka di sepanjang jalan atau di depan kantor-kantor pemerintahan.

Kemandulan Teologis

Dalam konteks Fiqiyyah maupun diskursus tafsir keagamaan kontemporer, mempraktekkan poligami dalam masyarakat modern sekarang ini bisa dibaca sebagai bukti kemandulan teologis. Dari sisi historis, konteks pembolehan poligami dalam Islam pada mulanya bertujuan justru untuk membatasi, bukan menambah jumlah istri. Sebab, dalam masyarakat Arab ketika itu, perempuan ibarat "obyek" yang boleh diapasajakan oleh laki-laki. Maka banyak orang, termasuk Umar ibn al-Khatab, sebelum menjadi muslim, tega mengubur bayinya yang terlahir perempuan. Di masa Arab jahiliyah, orang bisa beristri berapa saja, siapa saja. Asalkan mampu, asalkan bisa.

Kemudian Islam datang dengan menawarkan sebuah aturan "jika terpaksa, maksimal empat". Mengapa empat? Kajian Leonard Swidlerdalam Women in Judaism: The Status of Women in Formative Judaism (1976: 144-8) cukup menarik disimak. Sebagaimana bisa diduga, poligami adalah praktek budaya yang dulunya juga lumrah di kalangan kaum Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, rupanya pembolehan poligami juga dibatasi sampai maksimal empat. Agaknya, poligami sebagai model hubungan lelaki-perempuan yang turun-temurun diwarisi dari tradisi Yahudi itu di zaman Muhammad SAW telah berkembang demikian tak terkendali di tanah Arab. Sehingga Al-Quran kemudian mengembalikan tradisi itu kepada batas toleransi "maksimal empat" tersebut.

Terlepas benar-tidaknya hal di atas, menurut hemat saya, pada dasarnya monogami adalah bentuk hubungan sah lelaki-perempuan paling ideal dalam Islam. Sebab kata kuncinya adalah “ADIL” . Jika kita baca kembali terutama QS 4: 3-4, dan ditegaskan lagi dalam (QS 4: 129), adil itu hampir mustahil bisa dicapai seorang suami beristri lebih dari satu. Artinya, dengan pesan universal yang bisa diterima pemahaman manusia dari berbagai latar budaya dan sejarah, dengan ketentuan "maksimal empat" itu, Al-Quran sebenarnya sedang meletakkan fondasi penting buat kesederajatan lelaki-perempuan. Dengan "adil" sebagai hakikat pesannya, soal wujud hubungan legal itu selanjutnya diserahkan kepada kematangan umat Islam dalam mempraktekkannya. Tapi arahnya jelas, dari satu laki-laki dengan jumlah istri tak terbatas, menjadi maksimal empat istri, menuju monogami sebagai bentuk ideal.

Karena watak patriarkis yang mengidap ketidakadilan itu, jangan lupa, dari sisi hukum, poligami juga selalu menjadi perdebatan aktual. Ingat, betapa tidak berkenannya Rasulullah saat Ali r.a., sang menantu, menunjukkan isyarat hendak memadu Fatimah, putri kesayangannya. Sembari berdiri di atas mimbar, Rasulullah berkata, "Aku tidak akan kasih izin, kecuali Ali ibn Abi Talib terlebih dulu menceraikan anak perempuanku jika ia mau mengawini anak-anak gadis mereka. Sebab, Fatimah adalah bagian dari tubuhku, aku membenci apa yang dia benci untuk dilihat, dan apa yang melukainya juga melukaiku" (Sahih Bukhari, Vol. 7, Kitab 62, No. 157).

Sekali lagi, jika diskusi seputar isu poligami ini ditambatkan hanya pada soal hukum, kita tidak akan sampai ke mana-mana. Lebih-lebih menempatkannya semata sebagai urusan pribadi. Ini adalah persoalan sosial, perkara relasi kuasa yang timpang, masalah ketidakadilan atas kaum perempuan. Jelas pula, status poligami mendesak untuk direvisi kedudukannya dalam hukum Islam yang kita anut. Menggugat poligami dalam konteks masyarakat kita bukanlah menentang ayat Tuhan, melainkan justru menerjemahkan pesan esensial dari agama Islam: tentang keadilan. Dan perempuan, sebagai kaum yang dilemahkan sekian lama, menurut Chandra Mohanty dalam Feminism without Borders (2003: 236) memiliki "potential epistemic privilege" guna mewujudkan sistem sosial yang adil bagi semua pihak.

Mengekalkan Penindasan

Sebagai pemimpin yang dijadikan panutan banyak orang, mempraktekkan tindakan yang dari banyak segi jelas problematik amatlah tidak mendidik. Demikian juga yang terjadi dibumi Nusa Tenggara Barat ini. Ketika seorang pemimpin atau calon pemimpin mempraktikkan poligami, maka ia telah “menyakiti” sebagian besar ranah publiknya sendiri dengan menimbulkan huru-hara pewacanaan yang kontra produktif terhadap arah pembangunan dan cita-cita kepemimpinannya.

Ketika masyarakat, mendengar rumor Gubernurnya yang masih muda, Tuan Guru dan “ganteng” itu kawin lagi misalnya, publik pun—terutama ibu-ibu diperkampungan-- berekasi cukup keras. Apa pasal? Sebab ia bukan sekedar sosok idola sebagaimana para artis. Ia adalah sosok panutan; Muda, cerdas, berkuasa, dan layak menjadi panutan karena predikatnya sebagai Tuan Guru. padahal itu baru rumor(yang bersangkutan sllu menolak berkomentar soal itu). Publik pada umumnya sangat menaruh harapan jika Gubernur NTB TGH M. Zainul Majdi baik secara pribadi maupun sebagai tuan guru adalah sosok yang moderat dan terbuka, karena itu ia akan memberi suri tauladan yang baik serta “melindungi” hati para pengikutnya, terutama para ibu-ibu dan perempuan pada umumnya dengan memberantas budaya kurang baik.

Dengan melakukan Poligami, itu sama saja memberi anjuran dan memberi legitimasi kepada setiap lelaki di Nusa Tenggara Barat ini untuk melakukan praktik yang sama. Hal tersebut juga sangat kontra produktif misalnya dengan kampanye keluarga sehat, sejahtera, yang selama ini digembar-gemborkan pemerintahan yang dipimpinnya. Bukankah keluarga itu merupakan pilar utama pembangunan?

Dengan melakukan praktik poligami, sesungguhnya dia telah terjerat dalam permainan kekuasaan patriarkhis dan mengekalkan struktur penindasan terhadap kaum perempuan secara nyata.

Memang belum ada penelitian yang secara rigid menyebutkan, berapa jumlah poligami yang dilakukan di NTB ini, berapa istri-istri berikut anak-anak yang terlantar akibat praktik “semena-mena” itu. Berapa kasus KDRT yang terjadi dalam rumahtangga yang melakukan praktik Poligami? Apa efek sosial dan budaya dari hal ini. Semua itu memang belum muncul kepermukaan, tetapi publik, terutama ibu-ibu dan kaum perempuan-- tidaklah buta.

Jika kita menerima bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan, baik secara sosiologis maupun teologis, memang sederajat, mari kita bersepakat pula bahwa poligami bukanlah persoalan pribadi. Sebagai praktek sosial, ia adalah lembaga patriarkal yang memberikan privilese kuasa bagi laki-laki sembari menempatkan perempuan sebagai pecundang. Jangan lupa, jika ditelusuri, nalar ini tidak berhenti di sini. Ketika asumsi "lelaki superior, perempuan inferior" telah diterima sebagai common sense, siapa saja yang"dilelakikan" dengan sendirinya memiliki privilese atas kuasa dan kebenaran. Sementara itu, siapa saja yang "diperempuankan" harus tunduk sebagai kaum lemah yang sewaktu-waktu siap sedia menjadi korban, menjadi tumbal.

Karena itu, sesuai dengan capaian kematangan kita dalam pemahaman atas keadilan, termasuk kesederajatan laki-laki dan perempuan, secara sosiologis poligami tidak bisa dibenarkan. Dalam hal ini, isyarat positif pemerintah untuk segera memperluas cakupan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil perlu mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Penutup

Mencermati perkembangan perpolitikan di NTB, terutama diseputar pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Barat ini, saya jadi sangsi, adakah calon Gubernur yang berpihak pada nasib kaum perempuan? Padahal merekalah jumlah penduduk terbesar, sekaligus pemilih terbesar dan potensial yang diperebutkan oleh para kandidat. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Wacana peningkatan kualitas IPM yang menjadi agenda utama para kandidat, termasuk pengentasan gizi buruk dll tentu akan mengalami hambatan yang signifikan. Apa pasal? Sebab kekerasan struktural yang berbasis pada pembiakan budaya patriarkhal ini akan terus berlangsung dan itu, tentu saja akan mengesampingkan program keluarga harapan seperti digembar-gemborkan pemerintah melalui program PKH yang sudah berlangsung.

Saya juga tidak tahu bagaimana kesan dan tanggapan para aktivis perempuan pada umumnya dengan fenomena ini. Namun dari beberapa komentar di facebook, saya cukup kaget juga sebab nampaknya sebagain mereka—terutama yang berafiliasi dengan parpol pendukung kandidat calon gubernur justru bersikap kooperatif dengan mendomestifikasi persoalan poligami ini sebagai ranah personal. Wallahu’alam bi  al shawwab

Mataram, 13 Feb 2013
Continue reading →

Separuh Aku adalah Separuh Kau dan Separuh Mereka

0 comments
Apa yang dialami oleh manusia itu pada dasarnya sama, hanya saja yang dialami itu berbeda WAKTU, TEMPAT dan KADAR-nya.

Mungkin hari INI aku mengalami INI, di SINI dan begINIlah rasanya. Namun, besok yang ku alami ITU, akan kau alami di SANA dan begITUlah rasanya

~^() Karena Separuh Aku adalah Separuh Kau dan Separuh Mereka;;;
”Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah ingin merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Pesan ini mengantarkanku untuk merenungkan kembali apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi denganku suatu saat nanti. Paradigma kehidupan yang sudah sangat semrawut tidak hanya terjadi di berbagai tempat di tanah air atau di seluruh dunia melainkan juga terjadi di sekitar kehidupanku. Pada ayat di atas menggambarkan bahwa setiap yang terjadi itu adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri termasuk aku. Jika di sana tengah terjadi suatu peristiwa yang “wah”, maka aku yang mendengar peristiwa tersebut tentu memberikan suatu respon, walaupun hanya sekedar menerawang “bagaimana jika peristiwa itu menimpaku saat ini, di sini, dan seperti itu?”.
Andaikata dulu, Allah menciptakan hanya seorang Adam dengan Hawa lalu tidak ada kelanjutan atau tidak ada yang namanya keturunan, tentu saja yang terjadi di bumi ini hanyalah akibat ulah mereka berdua. Yah, karena mereka yang melakukan, mereka yang alami, mereka yang menanggung akibatnya. Namun, kesempurnaan Allah, menciptakan keturunan sebagai perpaduan antara kesempurnaan dan fitrah zat Ilah-Nya. Pun, tidaklah diciptakan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Nya saja. Sehingga dapat dikatakan bahwa kehidupanku adalah menjadi bagian dari kehidupan manusia lainnya, yaitu untuk beribadah kepada-Allah.
Separuh Aku,
Jika merujuk pada tujuan awal penciptaan manusia yakni untuk beribadah kepada Allah, berarti seluruh yang ada dalam diri adalah hak Allah untuk di ibadahi. Dengan kata lain, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki merupakan subjek penting yang Allah ciptakan dan keseluruhan itu memuji Allah dalam segala bentuk ketaatannya. Lalu, yang dimaksud dengan Separuh aku itu apa? Yah, maksudnya adalah ada beberapa bagian dari diri menjadi hak bagi sebagian yang lain. Contohnya Saat kita menikah, maka diri telah memenuhi separuh dari agamanya.
Separuh Kau,
Tentu saja pembaca merasakan setelah membaca tulisan ini juga akan ikut menerawang tentang diri bahwasanya keberadaan pembaca merupakan bagian dari penulis. Kenapa bisa demikian? Penulis ini, mengisyaratkan bahwa pada saat tulisan ini dibuat tentu saja untuk dibaca. Apa yang ada dalam pikiranku, hatiku lalu ditorehkan dengan tinta cursor ini untuk baca, dipahami, dimaklumi oleh pembaca. Dari pembaca saya mendapatkan motivasi dan atau kepuasan tertentu dari niat pembaca untuk mengerti apa yang ku utarakan. Jika ada respon, berarti pembaca mengkontak langsung apa yang saya maksudkan. Dengan kata lain, pembaca telah memberikan separuh darinya untukku.
Separuh Mereka,
Poin yang ini dapat tidak dapat kita pungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politikon). Manusia yang tidak dapat hidup sendiri, makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain. Itu artinya, bahwa kita adalah bagian dari orang lain. Dengan demikian, makna kata separuh mereka mengingatkan kita akan arti hubungan yang satu baik itu hubungan saudara, sahabat, pertemanan walaupun klaim kita, kita bukanlah sedarah. Namun dalam islam dikatakan bahwa “muslim itu saudara”.  Berarti separuhku adalah bagian dari mereka.
Demikian gambaran tentang hubungan horizontal yang ku maksudkan. Lalu dikaitkan dengan ragam peristiwa yang terjadi di seluruh isi bumi ini (Alam-Manusia dan Manusia-Alam). Semua berkaitan, semua saling membutuhkan, semua saling berpadu, semua saling menyatu. Hanya saja, konsepsi kepentingan, pengejewantahan keyakinanlah yang membedakan manusia itu begini dan begitu. Padahal manusia seluruhnya telah kita yakini kebenaran asal-muasalnya yaitu dari Nabi Adam As dan Hawa As.
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan saya dan kepada seluruh pembaca di manapun berada bahwa kita semua adalah satu yakni makhluk yang bernama manusia dimana “Manusia itu diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah Semata”.
Wallahu a’lam
Continue reading →
Wednesday, February 13, 2013

Semangat Kerja Penghapus Dosa

0 comments
Pict From Google

Oleh Encep Dulwahab

Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya ada dosa-dosa yang tidak terhapuskan dengan melakukan shalat, puasa, haji, dan umrah." Para sahabat bertanya, "Lalu, apa yang dapat menghapuskannya, wahai Rasulullah SAW?" Beliau menjawab, "Bersemangat dalam mencari rezeki."

Semangat dalam bekerja merupakan keharusan untuk siapa pun yang ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Baik sukses di dunia maupun akhirat. Begitu pun, dengan orang yang semangat dalam bekerja, dia akan meraih kebagiaan. Bahagia karena akan mendapatkan impian dan harapannya.

Islam sangat menghargai orang yang penuh dedikasi dan loyalitas dalam bekerja. Dalam kondisi apa pun, kita harus tetap bersemangat untuk selalu bergerak menangkap peluang-peluang dan membuka pintu-pintu rezeki yang telah disediakan-Nya. Allah Maha Rahman dan Rahim, Allah pula Mahakaya. Oleh karena itu, kita jangan takut kehabisan dengan kekayaan di dunia ini.

Untuk membuktikan dan meraih anugerah-Nya, Allah SWT menyeru kita untuk bergerak dinamis menyambut rezeki-Nya. Bukan dengan berdiam diri banyak zikir dan berdoa, atau mengasingkan diri untuk semedi dan lain sebagainya, tetapi bergerak terus menciptakan dan membuka peluang. Berdoa harus, tetapi rezeki tidak datang dengan sendirinya kalau tidak ditopang dengan berusaha meraihnya. Bekerja juga merupakan bentuk ibadah yang kualitasnya sama dengan ibadah-ibadah lainnya.

Dalam surah Al-Jumu'ah [62]: 10, Allah SWT berfirman, "Apabila telah ditunaikan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." Rasulullah SAW bersabda, "Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat dan puasa)." (HR Thabrani dan Baihaqi).

Kalau tidak bergerak dan kerja keras, hal itu melawan sunatullah dan apa yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW. Rasul bersabda, "Sebaik-baik manusia dalam melakukan pekerjaannya adalah mereka yang berusaha semaksimal mungkin dengan mengeluarkan kemampuan yang ada dalam dirinya." Tidak langsung memvonis diri tidak mampu dan tidak ditakdirkan untuk miskin atau gagal.

Rasulullah SAW sangat menyukai orang yang bekerja dengan penuh tantangan, ketimbang mudah putus asa atau pasrah terhadap usaha yang sedang dikerjakan. Rasulullah SAW pernah mencium tangan Sa'ad bin Mu'adz ketika melihat tangan Sa'ad yang kasar karena bekerja keras. "Inilah dua tangan yang dicintai Allah," kata Nabi Muhammad SAW.

Di dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Demi Allah, jika seseorang di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian dipikul ke pasar untuk dijual, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, terkadang ia dapat atau terkadang ia ditolak."

Sangat disayangkan karena tidak sedikit mental yang tidak siap bertarung dalam meraih rezeki-Nya. Mereka ingin mudah dalam meraihnya, salah satunya dengan meminta. Kalau ingin sukses, keluarkanlah keringat dari badan sendiri dan berjuanglah untuk menikmati kerja keras.

Source : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/07/07/lnygkp-semangat-kerja-penghapus-dosa
Continue reading →

ANAK DALAM HAYALAN TINGKAT TINGGI

0 comments

Kelak ingin ku didik ia dengan dengan segala kebaikan yang ku miliki --> Kemudian ku hiasi tempat tidurnya dengan kerlap kerlip Qiro’ah <--

Akupun riang menemani :

~♥. Kala ia tidur, duduk, berdiri, berjalan, lalu ia berlari sampaipun ia kembali ke pangkuanku .♥~

Bulu Kudukku merinding saat merenungi akan Syafaat Seorang Anak di akhirat nanti.

Anak-anak itu kemudian berhenti di pintu syurga. Mereka bertanya: “Manakah ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami? Dan masuk syurga tanpa ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami sungguh tidak patut bagi kami.”

Malaikat berkata: “Sesungguhnya ayah-ayah kalian dan ibu-ibu kalian itu tidak seperti kamu, karena mereka telah durhaka terhadap Rabb mereka, dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka dan syaitan-syaitan mereka, dan mereka harus masuk neraka.”

Maka tatkala anak-anak itu mendengar ucapan ini, mereka menjerit-jerit keras sekali, dan menangis banyak-banyak. Dan pada sat itulah Allah Yang Maha Tinggi, Maha Tahu, lagi Maha Teliti pengetahuan-Nya, berfirman: “Wahai Jibril, jeritan apakah ini?”

Jawab Jibril, Alaihis Salaam: “Ini jeritan anak-anak orang Islam. Mereka berkata: ‘Kami tak butuh syurga. Dan kami tak dapat merasakan keenakan-keenakan syurga tanpa ayah-ayah dan ibu-ibu kami, dan kami mengharap dari Allah Ta’ala agar memaafkan mereka dan memberikan dosa-dosa mereka kepada kami, lalu memasukkan mereka bersama-sama kami ke dalam syurga. Dan kalau tidak, maka masukkanlah kami bersama mereka ke dalam neraka.”

Dan pada saat itu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril, Alaihis Salaam: “Pergilah dan ambillah ayah-ayah mereka dan ibu-ibu mereka dari manapun saja mereka berada, lalu serahkanlah mereka kepada anak-anak mereka, karena sesungguhnya aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa mereka dengan syafaat anak-anak mereka, dan masukkanlah mereka bersama-sama anak-anak mereka masing-masing ke dalam syurga.”

Mendengar perkataan ini dari Allah Ta’ala, anak-anak itupun lalu bergembira dan bersukacita, dan mereka temuai ayah-ayah mereka dan ibu-ibu mereka masing-masing, mereka pimpin tangan mereka lalu masuk syurga bersama-sama mereka…”(Al Hadits).

Ya Rabby, Biarkan air mata ini menetes bahagia saat engkau mengkaruniakan kepada kami, buah hati kami yang memberi ketenangan pada kalbu kami. Mengingatkan kami akan segala anugerah yang Engkau titipkan kepada kami. Hingga kami mendapati keberuntungan yang Engkau Kehendaki.

Aamiin ya Rabb~
Continue reading →

JANGAN PERNAH MENUNTUT KEMUDAHAN

0 comments

JIKA ENGKAU TAHU BAGAIMANA RASANYA KESULITAN, MAKA JANGAN PERNAH ENGKAU MENUNTUT ADANYA KEMUDAHAN

Sampai saat ini, aku masih berdiri memegang 3 (tiga) kata yang ku jadikan alat untuk membuka tabir-tabir kehidupan yang belum aku jamah. Ketiga kata itu adalah Niat, Cinta dan Cita-cita. Kata-kata ini seringkali ku gauli dan ku bawa kemanapun aku pergi bersamaan dengan semangat yang ada dalam diri sanubari. Rabbku memanglah Maha Baik, sungguh sangat-sangat Baik menciptakan segala apa yang di langit dan yang ada di bumi tanpa ada satupun yang sia-sia untuk aku nikmati sesuka hati.

Betapa tidak, upaya meraih kebahagiaan hidup, ketenangan jiwa, ketenteraman batin, hidup dengan berkecukupan, cita-cita, angan, harapan, itu semua dapat terwujud. Semua itu telah ada baik di langit maupun di bumi. Perihal apa yang tidak Allah Azza Wa Jalla ciptakan yang dibutuhkan oleh manusia? Jawabannya mentok pada kata "tidak ada". Semua sudah disiapkan untuk dinikmati.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” [QS 62: 10]

Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilah al Allah, Allahu Akbar ~ Sungguh pikiranku, penglihatanku, pendengaranku tidak mampu menjamah ayat itu. Sejatinya usia yang ada, raga yang berdiri tegap, kedewasaan yang dimiliki merasa berdusta jika ia mengatakan bahwa tidak ada yang telah dicicipi atau tidak ada karunia-Allah termakan oleh ketiga hal itu.

Mencari kenikmatan dan kebahagiaan hidup bukanlah hal yang sulit. Kenyataan menilai bahwa meraih yang demikian memiliki tingkat kerumitan oleh karena adanya rasa tidak puas, kurang bersyukur dan desakan kebutuhan yang kian kompleks. Namun percayalah bahwa kadangkala perasaan-perasaan kontradiksi macam itu, dapat di tepis manakala kita melangkah dengan tiga kata di awal tulisan ini "Niat, Cinta dan Cita-cita".

Niat merupakan awal setiap apa yang dilakukan. ~Setiap amal perbuatan itu tergantung daripada "Niat" (Al-Hadist) setelah itu diiringi dan di hiasi dengan nuansa Cinta. Berbuat apa saja tentu dengan Cinta, jika kita telah mencintai perbuatan itu, maka yang dirasa adalah kenikmatan, kemudahan, suka, tiada keluh kesah dan seterusnya. Jika itu terlewati barulah ke tahap pencapaian yang namanya Cita-cita.

Oleh karena itu, jadikan setiap apa yang DILAKUKAN, apa yang menjadi AKTIFITAS, apa yang menjadi USAHA kita sebagai SARANA IBADAH kita kepada Allah Azza Wa Jalla.

Wallahu a'lam bishawwab
Continue reading →
Friday, February 1, 2013

BUBARKAN DENSUS 88

0 comments

Akibat arogansi, salah kaprah, teledor, ceroboh, sok nya D-88, kini aksi PARADE Bima-NTB menggalang dukungan dari masyarakat untuk ikut menyuarakan Pembubaran Terhadap Densus-88. Ini bukan Doktrin, melainkan adalah sebuah peringatan bahwa sedewasa mungkin dan seprofesional mungkin Densus-88 yang notabene bertugas menjaga keamanan dan ketertiban dari hal-hal yang berbau teror. Namun, itu semua jauh dari kenyataan yang sebenarnya sehingga muncullah opini-opini yang justru memojokkan D-88 itu sendiri.

Ingatlah bahwa kehidupan setiap yang bernyawa, itu akan mati dan setiap manusia telah ditentukan kapan ia akan memenuhi panggilan Rabbnya.

BIMA (Arrahmah.com) - Aksi tuntutan pembubaran Densus 88 semakin luas di suarakan masyarakat Bima,NTB. Kali ini (31/01/20013) puluhan orang yang terdiri dari pemuda dan masyarakat yang mengatasnamakan Persatuan Pemuda Rade (Perade) Bima turun konvoi dengan menggunakan satu mobil pick up & puluhan motor.
Masyarakat yang berasal dari salah satu desa di wilayah Sila (kecamatan Bolo & Madapangga), yang merupakan wilayah kelahiran alm.Bahtiar Abdullah, salah seorang korban Densus 88 awal januari 2013 lalu.
keliling kota
Massa yang memulai konvoinya sejak pukul 10.00 itu, meneriakkan hujatan atas tindakan-tindakan Densus 88 yang sewenang-wenang terhadap ummat Islam. Dan mengharapkan masyarakat waspada terhadap propaganda intelegen.
"Kita berharap tidak pernah terjadi lagi aksi penolakan jenazah korban kebrutalan Densus 88 di Bima, ummat Islam tidak boleh terprovokasi, masak lebih percaya Densus 88 yang kali tangan Yahudi itu dibandingkan sesama muslim?" ujar Koordinator Aksi, Abdul Haris dalam orasinya yang disampaikan melalui rilis kepada arrahmah.com, Jum'at (1/2/2013).
 Bukan hanya orasi di tempat-tempat ramai,seperti persimpangan dan pasar. Massa juga membagikan selebaran sebanyak 1500 lembar. Isi pernyataan nyaris sama sebagaimana yang diusung Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bima saat aksi Sabtu (26/01/13) lalu. Yang intinya menuntut pembubaran Densus 88 yang dianggap melakukan pendzaliman terhadap ummat Islam
"karena itu kami atas nama Pemuda di kabupaten Bima menuntut kepada Presiden, DPR RI dan Komnas Ham untuk secara bersama-sama segera melakukan pembubaran terhadap Densus '88." tegas Haris.
Bagikan Selebaran
Aksi konvoi pemuda ini mendapatkan respon luar biasa disepanjang jalan yang dilalui, warga mengacung-acungkan tangan menyambut massa aksi,mereka menyumbang air putih,bahkan menggandakan surat pernyataan PARADE hinggga 1500 lembar dan membagi-bagikan pada warga sekitar. (bilal/arrahmah.com)
Continue reading →

'Operasi Intelijen' untuk PKS: Dari Penjatuhan Citra Hingga Perangkap Daging Impor

0 comments
 
Sabtu, 21 Rabiul Awwal 1434 H / 2 Februari 2013
Awal Februari Postingan terpilih adalah tentang PKS. Setelah penerawangan berlangsung sejak ditetapkannya LHI sebagai tersangka penyuapan sampai hari ini. Sengaja membungkam diri untuk memantau lebih tajam tentang permasalahan-permasalahan yang kian hangat di berbagai media. Tentu saja hal setelah semua masalah itu terkumpul akan saya jadikan dokumen pribadi untuk memojokkan bahkan membantai Sistem Democrazy saat perang pemikiran (guzwul fikr) ini berlangsung.

Ucap Thanks To http://arrahmah.com, karena posting ini bisa dicopas..


Tiga bulan sebelumLetjen TNI (Purn) ZA Maulani meninggal dunia pada 2007, Kepala BIN (BAKIN) di era Presiden Habibie ini memberi informasi dan catatan penting dalam sebuah pertemuan.

Kepada yang hadir Maulani mengungkap bahwa intelijen asing yang berkomplot dengan pihak internal (dalam negeri) tengah intens "menggarap" ormas/partai Islam tertentu yang dianggap radikal atau dinilai memiliki pengaruh besar dan diprediksi menjadi partai masa depan.

"Operasi intelijen" ini, menurut Maulani, bertujuan untuk melemahkan ormas/partai Islam tertentu. Ada tiga ormas Islam yang dibidik kala itu dan satu partai Islam yang dinilai ke depannya memiliki pengaruh besar sebagai kekuatan politik Islam alternatif, jika tak segera dikebiri.

Menurut Maulani yang juga sangat dibenci Amerika, partai Islam yang dia maksud menjadi perhatian AS dan sekutunya. Rupanya Barat sangat khawatir dengan perkembangan partai yang pernah disebut fenomenal ini. Karena itu, bagaimana caranya agar partai ini dilemahkan, dibonsai dan dikerdilkan.

Menurut Maulani kala itu, ada tiga modus yang bertujuan melemahkan kekuatan ormas/partasi Islam tersebut. Pertama, membikin konflik internal yang target akhirnya menjadi pecah belah. Kedua, membuat citra/imej ormas/partai Islam tersebut menjadi buruk di mata publik. Ketiga, mengarahkan oknum pengurus/petingginya menjadi tergoda dengan dunia.

Maulani menjelaskan, sesungguhnya tak ada ormas/lembaga/partai Islam yang steril—khususnya yang dianggap radikal. Umumnya disusupi. Penyusupan ini tentu untuk lebih memudahkan pelemahan ormas/partai Islam yang dimaksud.
Modus pertama, membuat konflik di internal ormas Islam tertentu. Setidaknya ada 3 ormas Islam—setelah 2007—yang dengan tajam dilanda konflik internal. Satu ormas Islam akhirnya harus merelakan sejumlah pengurus dan anggotanya bedol desa alias keluar dari organisasi. Sedang ormas Islam lainnya pecah dan pecahannya melahirkan organisasi baru.

Modus kedua, membuat ormas Islam satunya lagi menjadi bulan-bulanan yang terus dicitrakan buruk. Sementara terhadap partai islam yang dibidik, "operasi intelijen" agak sulit membuat konflik atau menciptakan imej buruk. Pertama, partai ini dinilai solid, tidak mudah mengacak-acaknya. Kedua, partai yang dimaksud selama ini pertahanannya cukup kuat, segenap pengurus dan kadernya sangat menjaga citra baiknya di hadapan publik.

Walhasil, dari sisi mengarahkan partai ini ke dalam konflik internal dan merusak imejnya tak semudah mengacak-acak dua ormas Islam seperti tersebut di atas. Karenanya, modus ketiga, mengarahkan oknum pengurus tertentu dalam partai Islam ini untuk "silau" dengan dunia dengan cara memberi proyek, misalnya, ternyata cukup jitu.

"Operasi" ini meyakinkan bahwa pasti orang punya kebutuhan dalam hidup. Orang-orang yang lemah dan lebih cenderung pada dunia akan lebih mudah untuk dirasuki—disadari atau tidak—akhirnya berada dalam kubangan pragmatisme. Jalan "operasi" seperti ini dengan mudahnya dilakukan oleh musuh-musuh Islam.

Oknum atau orang-orang tertentu yang di hati dan jiwanya memiliki penyakit yang disebut dalam hadits Nabi sebagai "al-wahn"—cinta dunia benci mati—ternyata bukan saja menggiring pelakunya menjadi mabuk dunia, tetapi bahkan bisa membuat imej buruk dan distrust (hilangnya kepercayaan) publik secara bertahap terhadap partai dan petingginya—yang ujung-ujungnya melahirkan konflik.

Benar, akhirnya partai ini pun tak lepas dari konflik internal. Ada yang dipecat, ada yang mundur. Ada yang tak terima dipecat sehingga menuntut dan berujung ke pengadilan. Dua kubu berseteru, baik secara langsung maupun lewat SMS dan bahkan via media sosial.

Akhirnya partai yang selama ini dianggap solid, tak mudah dipecah belah, jebol juga pertahanannya.
Selesaikah "operasi" ini? Belum. Meski dalam sejumlah survei dinyatakan suara partai ini anjlok, lantaran berkurangnya kepercayaan, namun kelompok Islamfobia yang turut cawe-cawe dalam "proyek" ini masih belum puas.

Ocehan-ocehan 1 atau 2 petingginya yang dinilai tak mencerminkan Islam makin menambah deret banyak pihak, kader atau simpatisan, yang angkat kaki dari partai ini.

Kini, dengan kasus terbaru yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, masih belum puas juakah "operasi intelijen" yang telah "berhasil" membuat hasil survei memelorotkan suaranya?

Nyatanya "operasi" ini tak berhenti sampai di sini. Bahwa orang-orang partai ini tak jua tersentuh korupsi, agaknya mengundang rasa penasaran. Selama cap koruptor belum menempel pada partai ini sebagaimana partai lainnya, "operasi" ini dianggap belum sempurna.

"Operasi" ini harus "menggarap" orang-orang tertentu dalam partai dan yang terkait dengan partai untuk dipancing. Hanya orang-orang atau figur yang memiliki potensi dan kecenderungan hubbud dun-ya wakarahiyatul maut (cinta dunia benci mati) yang bisa digoda dengan dunia dan isinya. Tak tanggung-tanggung, orang kedua di partai ini, yakni presidennya, terjerembab dalam tudingan suap izin quota daging sapi impor.

Umumnya para petinggi dan pengurus serta kader-kader partai ini baik, lurus, dengan ghirah dan gairah Islam yang tinggi, tetapi segelintir orang telah membuat partai dakwah ini menjadi terpuruk tanpa ada sanksi terhadap mereka.

Inilah yang dijadikan bibit dan bahan "operasi" berikutnya. Sudah lama perangkap dan jebakan dipasang. Tapi rupanya selama ini belum bisa "dieksekusi" untuk memerangkapnya. Padahal vokalitas dan kritik tajam yang dianggap tak sejalan dengan yang namanya Setgab Koalisi kian menyebabkan partai ini harus segera dibonsai.
Lalu, sejumlah kasus yang menimpa beberapa pesohor dan petinggi negeri ini, dari Century, Hambalang, BLBI, dan lainnya, terakhir kasus manipulasi pajak keluarga SBY yang diungkap pertama kali oleh The Jakarta Post, Rabu (30/1/2013), memaksa kasus suap daging sapi impor yang sudah lama disiapkan untuk dimunculkan, sebagaimana dikatakan Prof Dr Tjipta Lesmana.

Menurut pengamat politik ini, kasus suap daging impor ini disinyalir untuk menutupi sederet kasus yang tadi disebutkan—terutama kasus terakhir: manipulasi pajak keluarga SBY.

Hanya, memang, entah lantaran digarap terburu-buru karena mengejar waktu atau seperti dikatakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Jimly Ash-Shiddiqie adanya faktor kebodohan (rakyat merdeka online, 31/1/2013), proses penetapan tersangka hingga penangkapan dan penahanannya pun tampak janggal di mata publik.

Jimly khawatir keberanian KPK ini karena didasari atas kebodohan. Kalau sampai pedang keadilan diserahkan kepada orang bodoh, menurutnya, itu sangat berbahaya.

"Jangan sampai begitu. Menegakkan keadilan itu kan sebagian juga seni. (Luthfi) belum diperiksa kok dijadikan sebagai tersangka. Mbok ditunggu seminggu kalau memang ada alat bukti. Ini kan soal kecerdikan. Jadi ini penegak hukumnya agak bodoh. Bisa karena bodoh, bisa karena goblok…," tandasnya.

Ya, seperti disebut tadi, entah karena diburu waktu yang mengharuskan skenarionya seperti itu atau faktor kebodohan seperti dikatakan Prof Jimly, yang terang ada beberapa hal yang janggal.

Pertama, KPK mengaku sebelumnya sudah mendapat informasi bahwa akan ada transaski (suap) pada Selasa (29/1/2013) siang di kantor PT Indoguna Utama.

Pertanyaannya, kenapa kemudian KPK tidak menangkap langsung saat transaksi suap terjadi? Bukankah ini lebih meyakinkan? KPK malah melakukan penangkapan pada malam hari di saat penerima suap (AF) tengah berada di sebuah hotel bersama seorang wanita yang belakangan diketahui mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta.

Kedua, ada penilaian publik, bahwa skenario yang mengandung unsur cewek cantiknya dalam "operasi" ini harus dimunculkan. Andai KPK menangkap saat transaksi suap berlangsung, maka dipastikan tak ada berita AF ditangkap saat berdua dengan seorang wanita cantik di dalam kamar hotel dengan busana minim.
Beberapa satsiun televisi berulang-ulang memutar dan memberitakan soal perempuan cantik ini. Bisakah kita menepis dugaan bahwa unsur perempuan cantik ini dalam rangka makin mendramatisir beginilah partai Islam! Citranya makin hancur. Ada pesan yang ingin diblowup dalam episode di bagian cerita ini, yakni: lha, partai dakwah, sudah kena kasus suap, eh malah ada unsur ceweknya pula. Imej tentu kian buruk. Itu pesan khususnya.

Jadi, kembali pada pertanyaan, mengapa ditangkapnya harus di hotel, bukan pada saat transaksi suap berlangsung, sebagaimana dilakukan KPK selama ini (tertangkap tangan)?

Ketiga, ini juga jadi pertanyaan banyak pihak, Luthfi Hasan tidak tertangkap tangan, tapi kenapa langsung dijadikan tersangka? Yang sudah-sudah langsung jadi tersangka saat tertangkap tangan memberi dan menerima suap, sementara Luthfi Hasan tidak ada saat transaksi suap terjadi.

Keempat, siapa sebenarnya AF penerima suap dari pimpinan perusahaan pengimpor daging sapi itu? AF disebut-sebut kurir dan orang dekatnya Luthfi. Tentu agak risih mendengar partai Islam kok kadernya mau disuguhi cewek yang kini disebut sebagai gratifikasi seks?

Namun Hidayat Nur Wahid menyebut AF bukan anggota atau kader PKS. Mantan Presiden PKS ini juga menyebut ada konspirasi terhadap PKS. Lantas, siapa yang menskenariokan AF dekat dan sebagai orang kepercayaan Luthfi? Sejak kapan penggarapan ini berlangsung?

Dan sepertinya "operasi intelijen" sebagaimana diinformasikan Alm ZA Maulani itu sejak 2007 sampai sekarang "berhasil" melemahkan, membonsai dan mengerdilkan partai ini, sehingga urung menjadi partai Islam yang memiliki pengaruh dan harapan umat, setidaknya untuk saat ini, wallahu a'lam ke depannya.
Namun seburuk apapun partai ini, ia pernah menjadi harapan banyak umat Islam. Ia pernah menjadi alternatif dalam politik keumatan di tengah penilaian bobroknya partai-partai sebelumnya.

Maka, badai pahit yang tengah melanda partai ini sudah seharusnya dijadikan pelajaran, introspeksi dan evaluasi untuk perjalanan ke depan yang lebih baik.

Mampukah partai ini mengembalikan trust publik seperti sebelumnya? Tentu, itu kembali pada pengelola partai ini, sejauh mana komitmen ke-Islam-an itu merasuki jiwa dan relung-relung mereka dan menjadikannya sebagai benteng kehidupan yang menghantarkan para kader dan simpatisannya ke dalam gerbang Indonesia yang lebih luas.

Dan, sejauh mana pula keberpihakan pada umat dan bangsa mayoritas Muslim ini sungguh-sungguh dirasakan, dan akhirnya dengan Visi Islamnya memiliki komitmen menegakkan Islam dan memperjuangkan Islam sebagai sistem dalam kehidupan bernegara, pemerintahan, bermasyarakat, meninggalkan sistem kufur!
(salam-online.com/arrahmah.com)
Continue reading →