Start By Reading

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam". الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ "Yang menguasai di Hari Pembalasan". إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus", صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".
Friday, January 18, 2013

Sejarah Banjir Jakarta-Arsip Foto

1 comments

Bagi sebagian orang mungkin tidak percaya kalau bencana banjir di Jakarta ini sudah mulai ada sejak jaman Belanda. Bahkan di sumber lain mengatakan bahwa banjir di Daerah Khusus Ibu Kota (Jakarta) ini terjadi sejak 1.600 tahun lalu. Hal ini terlihat dari Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di Cilincing, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Prasasti yang dibuat sekitar tahun 403 Masehi itu bertuliskan tentang penggalian kanal atau Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati.

Pada masa itu, Raja Purnawarman membuat kanal sepanjang 11 kilometer untuk mengelola air agar tidak banjir, sekaligus untuk menampung air saat musim panas. Candrabhaga kini dikenal dengan nama Bekasi, dan diperkirakan sebagai pusat Kerajaan Tarumanegara pada masa lalu.
 
Beberapa tahun setelah Belanda mendarat, pemerintahan kolonial sudah merasakan rumitnya menangani banjir di Batavia. Banjir besar pertama kali mereka rasakan di tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan 1876.




Sering dilanda banjir pemerintah Belanda merasa perlu unt uk mulai mengelola air secara serius. Tahun 1918 Pemerintah Belanda mulai membangun beberapa. Selanjutnya karena semakin kompleksnya masalah air yang melimpah, memaksa Pemerintahanan Kolonial membangun Banjir Kanal Barat (BKB) pada tahun 1922.



Meski sudah dibangun BKB, bukan berarti persoalan banjir di Jakarta bisa langsung diselesaikan. Pada Januari 1932 lagi-lagi banjir besar melumpuhkan Kota Jakarta. Ratusan rumah di kawasan Jalan Sabang dan Thamrin digenangi air. Saat pemerintahan beralih ke Republik Indonesia masalah banjir di Jakarta pun tak kunjung bisa diselesaikan. Tercata sejak kemerdekaan beberapa banjir besar terjadi di Jakarta, seperti pada tahun 1976, 1984, 1994, 1996, 1997, 1999, 2002, 2007 dan 2008.

Dari beberapa kejadian banjir besar yang terjadi tahun 1996, 2002 dan 2007, ada beberapa catatan yang bisa kita ambil berkaitan dengan masalah hidrologi maupun karakter cuaca.
  • Bulan Januari dan Pebruari adalah bulan dengan curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan terjadinya banjir.
  • Banjir di Jakarta sering disebabkan karena hujan dengan kapasitas besar terus menerus turun. Hujan yang hanya turun sekali biasanya tak sampai membuat Kali Ciliwung melimpas.
  • Hujan besar sebelumnya bisa memabah masalah pada hujan besar berikutnya. Ini terlihat dalam kasus banjir tahun 2002. Curah hujan awal Januari membawa banyak material dan menyebabkan terjadinya sedimentasi di dasar sungai. Akibatnya ketika hujan yang sama kembali muncul tanggal 31 Januari, banjir sulit dielakan.
  • Tinggi muka air laut tidak mempengaruhi banjir yang terjadi tahun 1996 , 2002 dan 2007.

Banjir tahun 2002 dan 2007 disebabkan oleh curah hujan ektrim yang turun lebih dari dua hari. Hal ini menyebabkan tinggi muka air Sungai Ciliwung di daerah Manggarai mencapai puncaknya. Untuk tahun 2007 sekaligus terjadi kombinasi penyebaba banjir akibat hujan di daerah hulu dan dan daerah hilir.



Jika kita melihat dari sejarah yang sudah diuraikan diatas, banjir sudah terjadi sejak jaman kolonial Belanda, hampir empat abad yang lalu. Ini artinya di saat jumlah penduduk Jakarta masih sedikit, banjir pun sudah terjadi di Jakarta. Dalam dekade terakhir, ternyata banjir semakin sering dialami.



Melihat kecenderungan banjir di Jakarta yang semakin sering serta semakin banyak daerah yang tergenang, memberikan indikasi bahwa penyebab banjir semakin beragam. Dimana satu dan lain penyebab saling menguatkan sehingga potensi terjadinya genangan semakin besar.

Kenyataan ini tentu membuat tantangan dalam menghadapi banjir yang akan datang menjadi lebih berat lagi. Permasalahan terus menerus bertambah sementara penyelesaian yang diambil sangat terbatas.

Kesadaran perlunya diambil tindakan penanggulangan banjir sudah ada sejak lama. Batavia yang dilanda banjir besar tahun 1918, membuat Prof. Ir. Herman Van Breen, seorang guru besar berkebangsaan Belanda, merencanakan satu konsep yang lebih strategis dalam menanggulangi banjir. Konsepnya adalah berusaha mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota.

Untuk itu perlu dibangun saluran kolektor di pinggir selatan kota untuk menampung limpahan air, dan selanjutnya dialirkan ke laut melalui tepian barat kota. Saluran kolektor yang dibangun itu kini dikenal sebagai Banjir Kanal Barat (BKB) yang memotong Kota Jakarta dari Pintu Air Manggarai bermuara di kawasan Muara Angke.
Penetapan Manggarai sebagai titik awal karena saat itu, karena wilayah ini merupakan batas selatan kota yang relatif aman dari gangguan banjir sehingga memudahkan sistem pengendalian aliran air di saat musim hujan. Banjir Kanal Barat (BKB) ini mulai dibangun tahun 1922. Untuk mengatur debit aliran air ke dalam kota, banjir kanal ini dilengkapi beberapa pintu air. Dengan adanya BKB, beban sungai di utara saluran kolektor relatif terkendali. Karena itu, alur-alur tersebut, serta beberapa kanal yang dibangun kemudian, dimanfaatkan sebagai sistem makro drainase kota guna mengatasi genangan air di dalam kota.

Setelah kemerdekaan banyak konsep /studi yang telah dilakukan. Dari beberapa studi yang ada, yang menonjol adalah studi yang dilakukan oleh Nedeco ‘The Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta oleh NEDECO 1973.

Pengendalian banjir didefinisikan oleh NEDECO 1973 sebagai upaya mengalihkan banjir dari sungai-sungai dan mencegahnya mengalir ke dalam wilayah kota. Drainase ini diartikan sebagai upaya evakuasi runoff pada saat hujan lebat yang terjadi di wilayah kota tersebut untuk bisa mengalir dengan lancar ke dalam saluran pengalihan banjir.

Keterangan :
Sumber Foto.
http://forum.detik.com/foto-foto-jakarta-dan-sekitarnya-tempo-dulu-posting-aja-kesini-t19743p49.html.

One Response so far

  1. Abdul says:

    Fatimah malik ar'asy

    Sy mencari bukti2/arsip2 apapun yg ada sangkut pautnya dgn http://www.abdulmalikarasy.wordpress.com untuk kemenangan fatimah.no hp sy ada di web itu.trims

Leave a Reply

DisClaimer Notes: Jika di Blog kami ditemukan kesengajaan dan atau tidak sengaja menyakiti siapa pun dan dalam hal apapun termasuk di antaranya menCopas Hak Cipta berupa Gambar, Foto, Artikel, Video, Iklan dan lain-lain, begitu pula sebaliknya. Kami mohon agar melayangkan penyampaian teguran, saran, kritik dan lain-lain. Kirim ke e-mail kami :
♥ amiodo@ymail.com atau ♥ adithabdillah@gmail.com